kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.035   52,00   0,29%
  • IDX 6.186   -10,65   -0,17%
  • KOMPAS100 807   -4,25   -0,52%
  • LQ45 613   -2,23   -0,36%
  • ISSI 214   -0,32   -0,15%
  • IDX30 345   -1,11   -0,32%
  • IDXHIDIV20 427   -1,32   -0,31%
  • IDX80 92   -0,44   -0,48%
  • IDXV30 116   -0,47   -0,40%
  • IDXQ30 110   -0,53   -0,47%

Prospek Kinerja Summarecon (SMRA) Tetap Positif, Penjualan Residensial Jadi Penopang


Senin, 27 Juli 2026 / 17:45 WIB
Prospek Kinerja Summarecon (SMRA) Tetap Positif, Penjualan Residensial Jadi Penopang
ILUSTRASI. Prospek kinerja PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) diperkirakan masih berada di jalur positif hingga kuartal III-2026 (KONTAN/Muradi)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) diperkirakan masih berada di jalur positif hingga kuartal III-2026. Penjualan perumahan yang tetap solid, khususnya di kawasan strategis, menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan bisnis emiten properti tersebut.

Meski demikian, sejumlah tantangan seperti dinamika suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), kondisi makroekonomi, hingga tingkat keterjangkauan konsumen masih menjadi faktor yang perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi profitabilitas perusahaan.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai prospek SMRA pada kuartal III-2026 masih cukup menjanjikan. Hal ini didukung oleh realisasi pra-penjualan atau marketing sales pada semester I-2026 yang mencapai Rp 2,5 triliun.

Capaian tersebut mencerminkan permintaan yang tetap kuat terhadap produk residensial Summarecon, terutama di kawasan Serpong. Menurut Nafan, pencapaian pra-penjualan tersebut juga memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap pengakuan pendapatan perseroan dalam beberapa kuartal mendatang.

Baca Juga: Pergantian Bos BI Berpotensi Tekan Rupiah & Obligasi, Mirae Asset Sarankan Saham Ini

Sejalan dengan itu, laporan riset Maybank Sekuritas Indonesia mencatat pra-penjualan SMRA tumbuh 17,1% secara tahunan (year on year/YoY), melampaui target internal perusahaan. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh tingginya permintaan dari segmen konsumen menengah ke atas.

Selain didukung penjualan residensial, struktur bisnis Summarecon yang terintegrasi juga dinilai menjadi keunggulan tersendiri. Perseroan memiliki portofolio yang mencakup pengembangan kawasan hunian hingga aset komersial, sehingga mampu menjaga stabilitas operasional di tengah siklus industri properti.

Nafan memproyeksikan segmen residensial masih akan menjadi motor utama pertumbuhan bisnis Summarecon hingga akhir tahun.

"Segmen residensial berfungsi sebagai growth driver, sedangkan recurring income menjadi fondasi stabilitas laba dan arus kas perusahaan," kata Nafan kepada Kontan, Senin (27/7/2026).

Risiko Suku Bunga dan Biaya Pendanaan Masih Membayangi

Di balik prospek yang positif, Nafan mengingatkan bahwa terdapat sejumlah risiko yang berpotensi menekan kinerja SMRA. Di antaranya adalah volatilitas suku bunga KPR, ketidakpastian kondisi ekonomi makro, serta potensi kenaikan harga bahan bangunan.

Baca Juga: Mundurnya Perry Warjiyo Picu Ketidakpastian, Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.150

Selain itu, persaingan antar pengembang dalam menawarkan skema pembiayaan kepada konsumen dan sensitivitas daya beli masyarakat kelas menengah juga dapat memengaruhi laju penjualan properti.

Risiko tersebut turut tercermin dalam laporan riset Ciptadana Sekuritas Asia yang mencatat laba bersih SMRA pada kuartal I-2026 turun 20,3% secara tahunan menjadi Rp 190 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya beban bunga.

"Biaya pendanaan dan volatilitas suku bunga perlu diwaspadai apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat," ujar Nafan.

Pendapatan Berulang Jadi Penyangga Kinerja

Di tengah tantangan pasar properti, pendapatan berulang (recurring income) dari operasional pusat perbelanjaan dan hotel dinilai menjadi penopang penting bagi ketahanan arus kas Summarecon.

Menurut Nafan, kontribusi dari aset komersial tersebut membuat perusahaan memiliki fondasi yang lebih kuat dibandingkan emiten properti yang hanya bergantung pada penjualan proyek residensial.

Ke depan, pergerakan saham SMRA diperkirakan akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari tren marketing sales setiap kuartal, peluncuran klaster baru, hingga tingkat okupansi aset komersial.

 

Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah dan peluang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia juga dipandang sebagai sentimen positif yang dapat mendorong pergerakan saham sektor properti.

Rotasi sektor di pasar saham serta valuasi emiten properti yang semakin menarik juga berpotensi menjadi katalis tambahan bagi SMRA.

Karena itu, investor disarankan mencermati perkembangan marketing sales sebagai indikator utama permintaan pasar. Selama daya beli konsumen menengah atas tetap terjaga, Summarecon diyakini masih memiliki ruang untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan hingga akhir tahun.

Di sisi lain, keberlanjutan ekspansi perusahaan juga akan bergantung pada kemampuan manajemen dalam menjaga likuiditas dan mengelola rasio utang secara disiplin.

Untuk strategi investasi, Nafan masih mempertahankan rekomendasi HOLD terhadap saham SMRA dengan target harga Rp 362 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×