Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan perumahan yang tangguh di kawasan strategis terus menjaga prospek kinerja PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) berada di jalur positif hingga kuartal III-2026.
Namun, tekanan beban bunga dan dinamika skema pembayaran konsumen masih menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan laba bersih emiten pengembang properti ini.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, prospek kinerja SMRA pada kuartal III-2026 masih cenderung positif.
Permintaan terhadap produk perumahan SMRA masih mencatatkan pertumbuhan cukup kuat meski kondisi pasar properti nasional secara umum masih selektif.
Baca Juga: Marketing Sales Summarecon (SMRA) Tembus Rp 2,5 Triliun, Cek Prospek Saham Kinerjanya
Menurut Ekky, penguat utama kinerja operasional emiten ini masih ditopang oleh segmen penjualan rumah tinggal.
"Dari sisi segmen usaha, penjualan rumah tinggal masih akan menjadi penggerak utama pertumbuhan karena kontribusinya terhadap pendapatan masih dominan," ujar Ekky kepada Kontan, Senin (27/7/2026).
Pencapaian pra-penjualan SMRA pada semester I-2026 terbukti melampaui estimasi pasar.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim mencatat pra-penjualan SMRA melonjak 17,1% YoY menjadi Rp 2,54 triliun, didorong penyerapan klaster menengah ke atas di kawasan Serpong dan Bandung.
Meski pendapatan berpeluang terus bertumbuh, Ekky mengingatkan bahwa pertumbuhan laba bersih perseroan kemungkinan lebih terbatas.
Baca Juga: Sektor Saham Ini Terdampak Ketidakpastian Pimpinan Bank Sentral
Laju profitabilitas SMRA sangat bergantung pada bauran produk yang diserahterimakan, margin proyek, serta perkembangan biaya bunga.
"Tantangan utama SMRA adalah permintaan properti nasional yang belum pulih secara merata," ungkap Ekky.
Ia menambahkan bahwa konsumen saat ini masih cukup sensitif terhadap harga rumah, besaran cicilan, dan suku bunga KPR.
Di sisi lain, beban modal kerja emiten juga sempat disorot akibat tingginya skema angsuran bertahap (cash instalment) yang mencapai 68% dari total pra-penjualan.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa mencatat, tekanan non-operasional berupa tingginya beban bunga membuat laba bersih SMRA pada kuartal I-2026 terkoreksi 20,3% YoY menjadi Rp 190 miliar.
Guna menjaga kelenturan bisnis, perseroan mengandalkan segmen recurring income dari operasional mal dan hotel untuk menstabilkan pendapatan saat penjualan properti melambat.
Ke depan, pergerakan kinerja SMRA akan dipengaruhi oleh respons pasar terhadap peluncuran klaster baru pada semester II-2026 serta efektivitas pameran Summarecon Expo.
Sentimen positif lain juga datang dari keberlanjutan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP).
Dari sisi makroekonomi, kejelasan arah suku bunga acuan BI-Rate dan efisiensi biaya pembiayaan dinilai dapat menjadi katalis re-rating bagi saham properti di pasar modal.
Melihat pergerakan harga di pasar, Ekky menyarankan investor untuk mencermati pergerakan teknikal secara terukur.
"Untuk saham SMRA, kami memberikan rekomendasi buy on weakness," kata Ekky.
Menurutnya, tren teknikal masih cenderung bullish, tetapi setelah kenaikan yang cukup signifikan, investor sebaiknya menunggu koreksi atau konsolidasi untuk memperoleh timing entry yang lebih baik.
Ekky mengalkulasi target harga jangka pendek hingga menengah untuk saham SMRA berada di kisaran Rp 360–Rp 400 per saham.
Adapun target lanjutan untuk jangka panjang diproyeksikan berada di area Rp 480–Rp 500 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














