Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Astra International Tbk (ASII) pada tahun 2026 diperkirakan masih bergerak moderat, meskipun tetap relatif solid di tengah dinamika industri otomotif dan komoditas.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai kekuatan utama Astra terletak pada model bisnis yang terdiversifikasi di berbagai sektor.
Grup Astra tidak hanya bergerak di otomotif, tetapi juga memiliki lini usaha jasa keuangan, alat berat, pertambangan, hingga infrastruktur.
“Prospek kinerja ASII pada 2026 menurut saya masih cenderung moderat, tetapi relatif solid karena model bisnisnya sangat terdiversifikasi,” ujarnya kepada Kontan, Senin (9/3/2026).
Dari sisi otomotif, Astra juga mulai menggeser strategi menuju kendaraan hybrid di berbagai segmen.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham dan Prospek Astra International (ASII) di Tahun 2026
Langkah ini dinilai cukup rasional di tengah kondisi pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang masih menghadapi sejumlah tantangan.
Menurut Nafan, infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia masih belum merata di berbagai wilayah. Selain itu, harga kendaraan listrik yang relatif premium juga masih menjadi kendala bagi sebagian konsumen.
Karena itu, pengembangan kendaraan hybrid atau plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) dinilai menjadi strategi transisi yang lebih realistis sambil menunggu kesiapan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri.
“Hybrid menjadi opsi yang lebih reasonable karena infrastruktur charging EV belum merata. Astra juga bisa sekaligus mempersiapkan ekosistem kendaraan elektrifikasi secara bertahap,” jelasnya.
Sebagai gambaran, ASII membukukan pendapatan sebesar Rp 323,39 triliun pada 2025 atau minus 1,5% YoY. Sejalan dengan itu, laba bersih ASII dibukukan sebesar Rp 32,76 triliun di tahun 2025, menurun 3,33% dari periode tahun 2024 senilai Rp 33,9 triliun.
Perseroan menyampaikan bahwa penurunan laba tersebut dipengaruhi oleh melemahnya harga batubara serta perlambatan pasar mobil baru.
Namun, Nafan melihat peluang perbaikan kinerja pada tahun 2026 seiring mulai pulihnya harga komoditas energi global.
Kenaikan harga batubara berpotensi menjadi katalis bagi kinerja anak usaha Astra di sektor alat berat dan pertambangan, yakni PT United Tractors Tbk (UNTR).
Di sisi lain, kinerja segmen otomotif juga akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga global dan domestik.
Jika suku bunga bertahan tinggi dalam waktu lama, hal ini berpotensi menahan permintaan kendaraan baru karena pembelian kendaraan banyak bergantung pada pembiayaan kredit.
Sebaliknya, jika tensi geopolitik global mereda dan membuka ruang penurunan suku bunga, permintaan kredit kendaraan berpotensi meningkat dan menjadi sentimen positif bagi sektor otomotif.
Dari sisi valuasi, Nafan menilai saham Astra masih tergolong menarik untuk investor jangka panjang.
Saat ini, rasio price to earnings (PE) saham ASII masih berada di bawah 10 kali dengan dividen yield di atas 5%. Kondisi ini dinilai cukup menarik bagi investor yang berorientasi pada value investing.
Meski demikian, ia masih merekomendasikan sikap hati-hati terhadap saham ASII di tengah berbagai dinamika global. Untuk saat ini, rekomendasi Nafan terhadap ASII masih wait and see.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













