Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
Di antaranya adalah optimasi biaya, peningkatan efisiensi operasional, serta perencanaan penambangan yang lebih selektif untuk menjaga harga pokok produksi (HPP) tetap kompetitif.
Selain itu, PTBA juga terus mengembangkan infrastruktur dan rantai pasok logistik agar biaya angkutan lebih efisien.
PTBA sendiri memperkirakan harga batubara termal masih akan bergerak volatil pada 2026. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca, faktor makroekonomi dan geopolitik, serta dinamika transisi energi global.
“Potensi perbaikan harga di 2026 tetap ada apabila terjadi lonjakan permintaan dari negara-negara yang masih mengandalkan batubara atau jika terjadi kendala pasokan dari produsen utama,” tandas dia.
Baca Juga: Hadapi Risiko Pelemahan Harga Batubara, Bukit Asam (PTBA) Fokus Kontrol Biaya
Kembali mengutip berita sebelumnya, Manajemen PTBA menargetkan volume produksi batubara sebanyak 50,05 juta ton pada 2025, sedangkan volume penjualan dan volume angkutan masing-masing sebesar 50,09 juta ton dan 43,25 juta ton.
Hingga kuartal III-2025, volume produksi batubara PTBA meningkat 9% year on year (yoy) menjadi 35,90 juta ton. Pada periode yang sama, volume penjualan batubara PTBA tumbuh 8% yoy menjadi 33,70 juta ton.
Selanjutnya: Celios Soroti Danantara: PSO Tak Tepat Biayai Infrastruktur KCIC
Menarik Dibaca: Apakah Timun Bisa Menurunkan Kolesterol Tinggi atau Tidak? Ini Jawabannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













