kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Pilih sektor saham yang prospektif


Jumat, 03 Mei 2013 / 08:08 WIB
Pilih sektor saham yang prospektif
ILUSTRASI. Petugas teller melayani nasabah prioritas di kantor cabang Bank Muamalat BSD Tangerang Selatan, Senin (20/9)./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/20/09/2021.


Reporter: Dina Farisah | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Meski tren inflasi di tahun ini meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, namun kondisi makro ekonomi Indonesia masih baik. Sektor-sektor seperti properti, infrastruktur dan perbankan masih cukup prospektif.

Oleh sebab itu, investor bisa membenamkan investasi di sektor-sektor itu, meski sektor tersebut akan terkena dampak oleh kenaikan inflasi di tahun ini. Namun, saya melihat, efeknya hanya terasa sementara saja. Selama Bank Indonesia (BI) tetap mengacu  pada inflasi inti (core inflation), agaknya kekhawatiran naiknya tingkat suku bunga acuan dapat diredam.

BI kemungkinan masih akan mempertahankan tingkat suku bunga rendah, yakni di level 5,75% pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) direalisasikan. Sebab, negara lain juga memiliki kecenderungan mempertahankan suku bunga rendah.

Dalam kondisi bayang-bayang inflasi tinggi, investor bisa memperbanyak portofolio di reksadana saham hingga sebesar 30% dari total alokasi investasi. Alokasi lainnya sebesar 30% bisa diparkir di reksadana pendapatan tetap. Sementara, sebesar 20% bisa dibenamkan pada reksadana pasar uang. Sisanya, dalam bentuk cash.

Namun, memasuki bulan Mei, investor harus lebih berhati-hati terhadap pasar saham. Sebab, secara historikal, bursa saham berpotensi koreksi pada bulan ini. Beberapa fund manager juga hengkang dari bursa karena banyak investasi yang jatuh tempo.

Adapun investasi yang sebaiknya mulai dikurangi adalah emas. Saat ini, emas sedang mengalami fase koreksi karena persepsi investor asing yang mulai mengalihkan portofolio mereka ke pasar saham.

Secara teknikal, harga emas belum prospektif untuk kembali ke level tertinggi. Investor bisa kembali mengoleksi emas ketika fase koreksi harga emas mulai berakhir.      

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×