Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Angka itu adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi.
PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
Gani, Analis OCBC Sekuritas menambahkan, kinerja emiten sektor telekomunikasi dan komoditas masih sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026.
Baca Juga: Pendapatan Naik, Laba Summarecon (SMRA) Turun 20% di Kuartal I-2026
Namun, kinerja emiten secara keseluruhan di kuartal II dan III 2026 bisa lebih menantang imbas dari meningkatnya harga minyak bumi. “Sektor komoditas yang seharusnya bisa perform lebih baik, sedangkan sektor consumer harus lebih selektif,” katanya kepada Kontan, Rabu.
Dengan kinerja tersebut, Gani pun merekomendasikan investor untuk memerhatikan saham BBCA, BBRI, BMRI, ISAT, TLKM, MEDC, MDKA, ANTM, dan MAPI.
Imam menuturkan, kinerja sektor konsumer dan ritel masih bisa kuat di sepanjang tahun 2026.
Data BPS menunjukkan pertumbuhan kuat di restoran, hotel, transportasi, bahkan transaksi digital. Artinya, perputaran uang di level bawah sampai menengah sedang aktif.
Emiten seperti AMRT, INDF, dan MAPI akan bisa langsung menangkap peluang pertumbuhan permintaan tersebut.
“Secara valuasi saham mereka juga masih cukup atraktif. Jika ditarik lebih luas, sektor ini juga defensif saat terjadi perlambatan global, baik karena geopolitik atau lainnya,” ungkapnya.
Baca Juga: Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Secara Kumpulan Tumbuh Melambat per Kuartal III-2025
Sementara, Abida bilang sektor jawara di tahun 2026 adalah sektor komoditas emas dan mineral kritis, seperti ANTM dan BRMS. Lalu, dari sektor telko ada ISAT dan TLKM yang masuk fase monetisasi, serta sektor EBT dengan BREN.
“Di sisi lain, sektor konsumer diskresioner tertekan daya beli kelas menengah dan properti yang masih menunggu penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) lebih agresif,” paparnya.
Abida pun merekomendasikan beli untuk ISAT, ANTM, dan BRMS dengan target harga masing-masing Rp 3.500 per saham, Rp 4.000 per saham, dan Rp 1.100 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













