kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Pertamina Geothermal (PGEO) Kunci Tarif Listrik Proyek Lahendong, Siap Tahap Lanjut


Selasa, 14 April 2026 / 14:59 WIB
Pertamina Geothermal (PGEO) Kunci Tarif Listrik Proyek Lahendong, Siap Tahap Lanjut
ILUSTRASI. PGE Perluas Pemanfaatan Teknologi Terobosan untuk Meningkatkan Efisiensi dalam Pengembangan Panas Bu (Dok/PT Pertamina Geothermal Energy Tbk)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konsorsium PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dan PT PLN Indonesia Power telah mencapai kesepakatan tarif listrik dengan PT PLN untuk pengembangan proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit.  

Kesepakatan tarif yang dicapai merupakan salah satu langkah dalam proses pengadaan pembangkit melalui skema Independent Power Producer (IPP) sebelum proyek memasuki tahap pengembangan selanjutnya. 

Proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit merupakan pengembangan pembangkit yang memanfaatkan teknologi binary alias bottoming cycle. Teknologi ini mengolah panas sisa dari operasi pembangkit panas bumi eksisting untuk menghasilkan tambahan listrik.  

Baca Juga: Diam-Diam Ada Perusahaan Cari Fasilitas Repo Atas Saham Energi Mega (ENRG)

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Ahmad Yani menjelaskan bottoming cycle memungkinkan pemanfaatan sumber daya panas bumi secara lebih optimal dengan menangkap energi panas. 

“Pemanfaatan teknologi bottoming memungkinkan potensi energi panas bumi yang masih tersedia dari operasi pembangkit eksisting dapat dimanfaatkan secara lebih optimal,” jelasnya dalam keterbukaan informasi, Selasa (14/4/2026). 

Ahmad mengatakan lewat teknologi ini,  panas sisa yang sebelumnya belum termanfaatkan dapat dikonversi kembali menjadi listrik sehingga meningkatkan efisiensi pembangkitan sekaligus memperkuat kontribusi panas bumi. 

Setelah kesepakatan tarif tercapai, pengembangan proyek akan dilanjutkan dengan sejumlah tahapan lanjutan. Ini termasuk pembentukan joint venture, pelaksanaan proses Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) hingga penyusunan Power Purchase Agreement (PPA). 

“Melalui tahapan tersebut, proyek ini ditargetkan dapat mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 2028,” jelas Ahmad. 

Sebelumnya, pada akhir Desember 2025, PGEO dan PLN IP juga telah mencapai kesepakatan tarif listrik untuk proyek PLTP Ulubelu Bottoming Unit berkapasitas 30 megawatt (MW). 

Kedua proyek ini merupakan bagian dari sinergi dua afiliasi BUMN di bawah PT Pertamina  dan PT PLN tersebut, dalam pengembangan energi panas bumi di 19 proyek eksisting dengan total kapasitas sekitar 530 MW. 

Baca Juga: Danantara Kantongi Cuan Rp 16,67 Triliun Dari Dividen BBRI

Saat ini, PGEO mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW dari enam wilayah operasi. Selain itu, PGEO turut mengembangkan sejumlah proyek untuk mendukung peningkatan kapasitas terpasang dalam beberapa tahun ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×