kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.557.000   3.000   0,12%
  • USD/IDR 18.114   -75,00   -0,41%
  • IDX 5.037   116,93   2,38%
  • KOMPAS100 650   18,07   2,86%
  • LQ45 515   14,05   2,80%
  • ISSI 167   3,37   2,07%
  • IDX30 290   7,00   2,47%
  • IDXHIDIV20 390   7,38   1,93%
  • IDX80 75   2,03   2,78%
  • IDXV30 108   1,64   1,54%
  • IDXQ30 97   2,23   2,34%

Permintaan Obligasi Menguat, Yield SUN 10 Tahun Bertahan di 7,72%


Kamis, 05 November 2026 / 10:22 WIB
Permintaan Obligasi Menguat, Yield SUN 10 Tahun Bertahan di 7,72%
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di BRI Danareksa Sekuritas, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan penguatan setelah lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk pemerintah pada Selasa (3/11/2026) mencatatkan respons positif.

Kondisi tersebut turut menopang perdagangan obligasi pemerintah di pasar sekunder, meskipun pergerakan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) masih bervariasi.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan mengatakan, respons investor yang lebih kuat dalam lelang sukuk memberikan sinyal positif terhadap permintaan SUN.

Baca Juga: Tertekan Risiko Fiskal dan Harga Minyak, Yield SUN 10 Tahun Terancam Tembus 8%

Dukungan tersebut berlanjut ke perdagangan pasar sekunder, terutama pada sejumlah seri obligasi pemerintah non-benchmark.

"Respons lelang sukuk yang lebih kuat memberikan sinyal positif bagi permintaan SUN dan berlanjut ke perdagangan di pasar sekunder," ujar Ridwan dalam risetnya, Kamis (5/11/2026).

Di pasar sekunder, yield SUN bergerak bervariasi pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Yield SUN bertenor 5 tahun turun 1 basis poin menjadi 7,55%. Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun stabil di level 7,72%.

Adapun yield SUN bertenor 15 tahun tercatat sebesar 7,74%, sedangkan tenor 20 tahun berada di level 7,73%.

Ridwan bilang, pembelian investor domestik masih terkonsentrasi pada sejumlah seri obligasi non-benchmark di segmen tenor menengah hingga panjang.

Kondisi tersebut memberikan dukungan terhadap pasar obligasi, tetapi belum mendorong penguatan secara merata di seluruh kurva yield.

Dari sisi nilai transaksi, perdagangan obligasi pemerintah didominasi seri PBS003 dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,68 triliun. Posisi berikutnya ditempati FR0110 sebesar Rp 2,89 triliun dan FR0108 sebesar Rp 2,58 triliun.

Baca Juga: Yield SUN Masih Tinggi di Tengah Penurunan US Treasury, Cek Prospeknya

Sementara itu, berdasarkan frekuensi transaksi, seri PBS030, FR0111, PBS003, FR0110, dan FR0083 menjadi obligasi pemerintah yang paling aktif diperdagangkan.

Dari pasar global, harga obligasi pemerintah Amerika Serikat menguat seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset tersebut.

Hal ini tercermin dari penurunan yield US Treasury (UST) tenor 2 tahun sebesar 3 basis poin menjadi 4,58%. Sementara itu, yield UST tenor 10 tahun turun 5 basis poin ke level 4,90%.

Penguatan pasar obligasi AS terjadi setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan Kongres meningkatkan ekspektasi terhadap pemerintahan yang lebih terbatas dalam mengambil kebijakan fiskal.

Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran terhadap ekspansi belanja pemerintah dan peningkatan penerbitan surat utang AS.

Sentimen positif juga datang dari penurunan harga minyak mentah. Harga minyak Brent anjlok 8,7%, sedangkan WTI turun sekitar 8% hingga menyentuh level terendah dalam empat pekan. Pelemahan harga energi tersebut turut meredakan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi.

Di sisi lain, pasar obligasi Eropa juga mencatatkan penguatan. Yield obligasi pemerintah Inggris bertenor 10 tahun turun 13,1 basis poin menjadi 5,13%.

Baca Juga: Yield SUN Tembus 7,66%, Pembiayaan Utang Pemerintah Makin Berat

Sementara itu, yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun terkoreksi 5,8 basis poin menjadi 3,27%. Sebaliknya, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 4 basis poin ke level 2,82%.

Meski demikian, pergerakan rupiah masih menjadi perhatian. Rupiah melemah 0,11% ke level Rp 18.155 per dolar AS, meskipun indeks dolar AS (DXY) turun 0,45% menjadi 101,41.

Ridwan mengatakan, pelemahan rupiah di tengah koreksi dolar AS menunjukkan masih adanya risiko yang membayangi aset domestik.

"Terbatasnya respons positif rupiah di tengah pelemahan dolar AS mengindikasikan masih adanya premi risiko domestik dan sikap hati-hati investor asing terhadap aset Indonesia," katanya.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Investor Diprediksi Selektif Ikuti Lelang SUN Rp 30 Triliun

Menilik perkembangan pasar global dan domestik tersebut, Ridwan memperkirakan yield SUN bertenor 10 tahun akan bergerak pada kisaran 7,60% hingga 7,75% pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

Adapun seri obligasi pemerintah yang menarik untuk diperdagangkan meliputi PBS003, FR0059, FR0101, FR0110, dan FR0098.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×