kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Perang dagang AS-China kembali berkobar melemahkan rupiah


Kamis, 09 Mei 2019 / 17:22 WIB


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dengan China yang semakin memanas, masih menjadi faktor utama yang membuat rupiah melemah, Kamis (9/5).

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,45% ke Rp 14.360 per dollar AS, Kamis (9/5). Sedangkan, pada kurs tengah Bank Indonesia, rupiah juga melemah 0,23% ke Rp 14.338 per dollar AS.

Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan, faktor eksternal perang dagang AS dan China yang kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump, mengancam akan menaikkan tarif barang-barang China senilai $200 miliar dari 10% menjadi 25%. "Sentimen perang dagang masih dominan membuat rupiah tertekan terhadap dollar AS," kata Yudi, Kamis (9/5).

Sementara dari dalam negeri, data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di bawah ekspektasi pelaku pasar juga menambah beban penguatan rupiah. Yudi mengatakan estimasi pelaku pasar di kuartal I 2019 adalah 5,08% sementara data menunjukkan 5,07%.

"Data pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah ekspektasi membuat investor masih wait and see," kata Yudi.

Apalagi, rupiah makin sulit menguat dan sikap wait and see semakin tak terhindarkan karena kondisi politik dalam negeri jelang pengumuman hasil pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). "Kondisi politik adanya tudingan kecurangan KPU membuat pelaku pasar semakin wait and see," kata Yudi.

Jumat besok (10/5), Yudi memproyeksikan rentang rupiah berada di Rp 14.200 per dollar AS hingga Rp 14.500 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×