Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% hanya menjadi ruang napas sementara bagi nilai tukar rupiah yang sebelumnya tertekan.
Memang, pada penutupan perdagangan hari Rabu (20/5/2026), kurs rupiah di pasar spot menguat Rp 52 atau 0,29% menjadi Rp 17.654 per dolar Amerika Serikat (AS) dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.706 per dolar AS.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, dalam jangka pendek kenaikan BI Rate memang memberi ruang bagi rupiah untuk stabil.
Selisih suku bunga Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) menjadi lebih lebar sehingga aset berbasis rupiah, terutama Surat Berharga Negara (SBN) dengan yield yang mendekati 6,8%, menjadi lebih menarik untuk menahan arus keluar modal asing.
Baca Juga: Pasca Merger Laba EXCL Melonjak 63%, Analis Rekomendasi Beli Dengan Target Rp 3.500
Namun, Yusuf menilai dampak yang lebih penting justru berasal dari sisi kredibilitas kebijakan moneter. “Pasar melihat BI akhirnya bergerak lebih tegas setelah sebelumnya dinilai cukup tertinggal dalam merespons tekanan global. Karena itu penguatan rupiah hari ini lebih mencerminkan pulihnya kepercayaan pasar terhadap komitmen stabilisasi BI,” ungkap Yusuf kepada kontan, Rabu (20/5/2026).
Meski demikian, Yusuf mengingatkan kenaikan suku bunga acuan tetap memiliki keterbatasan karena sumber utama tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal yang berada di luar kendali BI.
Ia menyoroti konflik geopolitik di Timur Tengah dan potensi gangguan jalur distribusi energi global, termasuk di Selat Hormuz, yang mendorong harga minyak bertahan tinggi sekaligus meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (safe haven).
Di saat bersamaan, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang masih tinggi, saat ini di level 4,66%, juga membuat aliran dana global cenderung mengarah ke aset berbasis dolar. Selama dolar AS tetap kuat dan kebijakan The Fed masih ketat, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan benar-benar hilang.
“Karena itu saya melihat kenaikan hari ini lebih tepat dibaca sebagai upaya membeli waktu dan menjaga kepercayaan pasar, bukan solusi permanen,” imbuh Yusuf.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.654 Per Dolar AS di Tengah Tekanan Konflik Timur Tengah
Bahkan, apabila tekanan global terus berlangsung, ruang kenaikan BI Rate tambahan masih terbuka dalam beberapa bulan mendatang. Dengan demikian, arah rupiah ke depan dinilai tetap sangat bergantung pada perkembangan eksternal, terutama situasi geopolitik Timur Tengah, harga minyak, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Di sisi lain, Yusuf mengingatkan stabilisasi rupiah melalui kenaikan suku bunga juga memiliki konsekuensi terhadap perekonomian domestik. Kenaikan biaya kredit, baik kredit pemilikan rumah (KPR) maupun pinjaman usaha, diperkirakan mulai terasa dalam beberapa bulan ke depan.
“Tentu ada konsekuensi dari kenaikan suku bunga. Biaya dana perbankan berpotensi naik dan pertumbuhan kredit bisa sedikit melambat sehingga tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi juga perlu diperhatikan,” katanya.
Menurutnya, BI saat ini menjalankan strategi ganda, yakni memperketat kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus melonggarkan instrumen makroprudensial agar likuiditas dan penyaluran kredit ke sektor riil tetap terjaga.
Untuk arah jangka pendek, baik BI menaikkan maupun menahan suku bunga, rupiah sebenarnya tetap punya peluang menguat. Hanya saja besarannya akan sangat bergantung pada dukungan kebijakan lain, terutama dari sisi fiskal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













