kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   -1.000   -0,03%
  • USD/IDR 16.791   2,00   0,01%
  • IDX 8.980   4,90   0,05%
  • KOMPAS100 1.240   -4,48   -0,36%
  • LQ45 876   -6,31   -0,72%
  • ISSI 331   0,57   0,17%
  • IDX30 444   -6,39   -1,42%
  • IDXHIDIV20 519   -14,10   -2,64%
  • IDX80 138   -0,67   -0,49%
  • IDXV30 144   -3,64   -2,47%
  • IDXQ30 142   -2,84   -1,95%

Pemerintah Patok Penerbitan SBN Ritel hingga Rp 170 Triliun, Ekonom: Masih Realistis


Selasa, 27 Januari 2026 / 18:48 WIB
Pemerintah Patok Penerbitan SBN Ritel hingga Rp 170 Triliun, Ekonom: Masih Realistis
ILUSTRASI. Pemerintah menargetkan penghimpunan dana dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel 2026 di kisaran Rp 150 triliun hingga Rp 170 triliun. (Dok/Kemenkeu)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menargetkan penghimpunan dana dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel tahun 2026 di kisaran Rp 150 triliun hingga Rp 170 triliun.

Target tersebut akan dihimpun melalui penerbitan delapan seri SBN ritel sepanjang tahun, sama seperti realisasi pada 2025 yang mencatatkan total penjualan sekitar Rp 153 triliun.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai target tersebut masih berpeluang tercapai, mengingat konteks penerbitan tahun ini relatif serupa dengan tahun sebelumnya. Basis investor domestik yang semakin luas serta kemudahan akses pembelian menjadi faktor utama yang menopang optimisme tersebut.

Baca Juga: Menanti Rapat FOMC, Begini Proyeksi Rupiah Rabu (28/1)

“Dengan rencana delapan seri seperti tahun lalu, peluang mencapai target Rp 150-Rp170 triliun masih cukup terbuka,” ujar Josua kepada Kontan, Senin (26/1/2026).

Josua menjelaskan, terdapat sejumlah katalis yang dapat menjaga minat investor ritel terhadap SBN pada 2026. Pertama, kanal distribusi yang semakin beragam, mulai dari bank, perusahaan sekuritas, hingga platform digital, membuat akses pembelian kian mudah bagi masyarakat.

Kedua, pajak kupon SBN ritel yang relatif rendah tetap menjaga daya tarik imbal hasil bersih di tengah tren penurunan suku bunga.

Selain itu, kebutuhan investor ritel terhadap instrumen investasi yang aman, berisiko rendah, dan memberikan arus kas bulanan juga cenderung meningkat di tengah ketidakpastian pasar keuangan.

Baca Juga: Laba Japfa (JPFA) Berpeluang Naik Tahun Ini, Simak Rekomendasi Sahamnya

Dari sisi pasar obligasi secara umum, permintaan pada lelang SBN dinilainya masih solid, sehingga turut menopang sentimen positif terhadap produk SBN ritel.

“Dari sisi pasar obligasi secara umum terlihat permintaan yang tetap kuat pada lelang SBN, yang biasanya ikut membantu sentimen terhadap produk ritel karena kurva imbal hasil tetap hidup dan likuid,” tambah Josua.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa target tersebut bisa menjadi lebih menantang apabila penurunan suku bunga acuan berlangsung lebih cepat dari perkiraan.

Kondisi tersebut berpotensi menekan tingkat kupon seri-seri SBN ritel berikutnya, sementara sebagian investor ritel masih sensitif terhadap besaran kupon nominal.

Terkait prospek kupon delapan seri SBN ritel yang akan diterbitkan sepanjang 2026, Josua memperkirakan arah pergerakannya cenderung menurun seiring tren pelonggaran kebijakan moneter dan penurunan imbal hasil SBN di pasar sekunder.

Pemerintah umumnya menyesuaikan tingkat kupon dengan kondisi kurva imbal hasil saat masa penawaran.

“Kalau tren penurunan bunga berlanjut, secara umum kupon seri-seri berikutnya berpotensi lebih rendah dibanding seri awal tahun, terutama untuk seri berkupon tetap,” jelasnya.

Namun, pergerakan kupon tidak selalu berjalan mulus. Faktor sentimen global, pergerakan nilai tukar, serta persepsi risiko terhadap aset domestik dapat mempengaruhi imbal hasil SBN. Dalam periode volatilitas, kupon seri berikutnya masih berpeluang tertahan atau bahkan sementara lebih tinggi.

Untuk diketahui, di awal tahun ini Kemenkeu telah menawarkan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029. Masa penawaran ORI029 dibuka pada 26 Januari 2026 pukul 09.00 WIB dan ditutup pada 19 Februari 2026 pukul 10.00 WIB.

ORI029T3 memiliki tenor 3 tahun dengan jatuh tempo pada 15 Februari 2029, sementara ORI029T6 bertenor 6 tahun dan akan jatuh tempo pada 15 Februari 2032. Pemerintah menawarkan kupon tetap (fixed rate) sebesar 5,45% per tahun untuk ORI029T3 dan 5,80% per tahun untuk ORI029T6.

Selain ORI029, pemerintah juga akan menawarkan tujuh seri SBN ritel lain di sepanjang 2026 ini meliputi: SR024 pada 6 Maret–15 April 2026, ST016 pada 8 Mei–3 Juni 2026, ORI030 pada 6–30 Juli 2026, SR025 pada 21 Agustus–16 September 2026, SWR007 pada 4 September–21 Oktober 2026, SBR015 pada 28 September–22 Oktober 2026, serta ST017 pada 6 November–2 Desember 2026.

Selanjutnya: Dorong Energi Bersih, Haleon Operasikan PLTS Atap di Pabrik Pulogadung

Menarik Dibaca: Lanjut Reli, Sudah Dua Hari Harga Emas Bertahan di atas US$ 5.000

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×