CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pasokan global ketat, harga aluminium stabil menguat


Kamis, 30 Agustus 2018 / 20:27 WIB
Pasokan global ketat, harga aluminium stabil menguat
ILUSTRASI. Aluminium

Reporter: Grace Olivia | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aluminium di pasar derivatif masih terus mencatat penguatan. Meski komoditas logam industri ini dirundung sentimen tarif impor oleh Amerika Serikat sejak awal tahun, harga aluminium stabil menguat di tengah pasokan yang semakin ketat di pasar global.

Mengutip Bloomberg, harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange, Rabu (29/8), berada di level US$ 2,172 per metrik ton. Harga aluminium naik 1,8% dibandingkan dengan harga penutupan pada hari sebelumnya. Dalam sepekan, harga aluminium sudah melesat sebesar 5,18%.


Analis Asia Trade Point Futures Andri Hardianto menjelaskan, penguatan harga aluminium dipicu oleh makin berkurangnya pasokan di pasar global. "Semester pertama saja, pasokan aluminium cuma 334.000 ton, sedangkan permintaan mencapai 29,94 juta ton. Defisitnya sangat besar," ujar Andri, Kamis (30/8).

Menurut Andri, minimnya pasokan aluminium di pasar global sepanjang tahun ini tidak lepas dari adanya sanksi yang dijatuhkan ke salah satu perusahaan produsen aluminium terbesar di dunia asal Rusia, United Company Rusal Plc. Tambah lagi, sektor otomotif, terutama kendaraan listrik di China mengalami pertumbuhan yang stabil sehingga permintaan aluminium sebagai komoditas bahan baku cukup tinggi di negeri panda tersebut.

Meski bukan negara produsen aluminium yang besar, Brasil juga mengalami penurunan produksi yang cukup besar. Mengutip Bloomberg, produksi aluminium Brasil hingga akhir Juli 2018 lalu hanya mencapai 408.000 ton atau turun 12,4% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

"Walaupun kontribusi produksi Brasil kecil, penurunan produksi ini semakin menambah beban defisit aluminium di pasar global," kata Andri.

Hingga akhir tahun, Andri melihat harga aluminium masih akan stabil menguat. Apalagi, China mempunyai kebijakan mengurangi produksi smelter di pengujung tahun yang berpotensi semakin memangkas pasokan logam tersebut secara global. Menurut Andri, dengan potensi defisit yang besar seperti ini, pengaruh penguatan dollar Amerika Serikat (AS) tidak akan begitu signifikan menahan laju harga aluminium ke depan.

Secara teknikal, Andri melihat harga aluminium saat ini masih bergulir di atas garis Moving Average (MA) 50, MA 100, maupun MA 200. Artinya, tren harga aluminium masih akan menguat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Namun, indikator MACD saat ini berada di area negatif pada level -0,035. Indikator stochastic juga berada di level 37,5 dan memberi sinyal jual. Adapun, indikator RSI saat ini masih netral pada level 52,5.

Andri memproyeksikan, Jumat (31/8), harga aluminium masih akan bergerak di kisaran US$ 2.100 - US$ 2.180 per metrik ton. Sementara, dalam sepekan ke depan harga aluminium berada dalam rentang US$ 2.060 - US$ 2.230 per metrik ton.




TERBARU

Close [X]
×