kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Pasar Saham Merosot September 2026, Cek Saham Pilihan yang Diprediksi Bangkit Oktober


Jumat, 02 Oktober 2026 / 05:48 WIB
Pasar Saham Merosot September 2026, Cek Saham Pilihan yang Diprediksi Bangkit Oktober
ILUSTRASI. Pasar Saham Merosot September 2026, Cek Saham Pilihan yang Diprediksi Melaju Oktober


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia tertekan pada September 2026. Untuk Oktober 2026, ada peluang mendapatkan cuan dari pasar saham menurut rekomendasi analis berikut. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang September 2026. Kombinasi sentimen global dan tekanan dari pasar domestik membuat indeks terkoreksi signifikan dan membuka peluang bagi investor untuk mencermati sejumlah saham yang dinilai memiliki fundamental kuat.

Mengacu pada data Bloomberg, IHSG turun 6,96% secara bulanan (month on month/MoM) dari 6.525,47 pada akhir Agustus menjadi 6.071,13 pada akhir September 2026. Dengan koreksi tersebut, penurunan IHSG secara tahun berjalan (year to date/YtD) semakin dalam.

Pada perdagangan terakhir September, IHSG ditutup di level 6.071,14 setelah melemah 0,83%. Data perdagangan menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat pada akhir bulan.

Baca Juga: IHSG Masih Dibayangi Foreign Outflow, Cermati Peluang Rebound

Tekanan Global Membebani IHSG

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, tekanan terhadap IHSG selama September terutama berasal dari perkembangan global.

Salah satu sentimen utama adalah kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September menjadi 3,75%-4,00%. Keputusan tersebut merupakan salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap aset pasar berkembang.

Bank Indonesia juga mencatat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak sebagai faktor yang memengaruhi pasar negara berkembang. Harga minyak bahkan sempat menyentuh US$132 per barel sebelum kembali berada di bawah US$100 pada 22 September.

Dari sisi domestik, rupiah dan pasar surat utang juga menjadi perhatian investor. BI pada September mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dengan pertimbangan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.

Tekanan tersebut turut mendorong investor asing mengurangi eksposur di pasar saham Indonesia. Pada awal September, misalnya, investor asing mencatat net sell Rp 1,95 triliun dalam satu sesi perdagangan, dengan BBCA menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Melanjutkan Koreksi pada Jumat (2/10), Cermati Saham Berikut Ini

Saham Pilihan untuk Bottom Fishing

Meski koreksi IHSG cukup dalam, sejumlah analis melihat penurunan harga saham sebagai peluang untuk melakukan akumulasi secara bertahap.

Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan saham perbankan berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dapat dicermati oleh investor.

Menurut Wawan, saham-saham tersebut berpotensi menjadi perhatian ketika arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik.

Selain sektor perbankan, Wawan juga melihat peluang pada saham berbasis emas dan logam, antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

"ANTM dan BRMS juga menarik, apalagi ANTM menjadi saham yang paling banyak dibeli asing di September," ujar Wawan kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).

Baca Juga: Stimulus Rp 31 T Cair, Saham ICBP, AMRT, MYOR, MIDI Diprediksi Akan Diuntungkan

Ada Pilihan dari Batubara hingga Consumer

Saham komoditas lain yang dapat dicermati adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Eksposur pendapatan dalam dolar AS menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan dukungan ketika dolar AS menguat terhadap rupiah.

Sementara itu, sektor consumer dan perkebunan juga masuk dalam radar. Wawan menyebut PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) sebagai saham yang relatif dapat diperhatikan di tengah volatilitas pasar.

Khusus saham consumer defensif, karakter bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu faktor yang membuat sektor tersebut tetap menjadi perhatian ketika pasar mengalami tekanan.

Tonton: IHSG Makin Pudar Hari ini, Berikut 10 Saham LQ45 dengan PER Terendah & Tertinggi (1 Oktober 2026).

Strategi Akumulasi Bertahap

Koreksi tajam IHSG tidak serta-merta berarti seluruh saham berada pada kondisi yang sama. Perbedaan fundamental, valuasi, prospek bisnis dan sensitivitas terhadap kondisi makro perlu menjadi pertimbangan investor.

Nafan mengatakan strategi akumulasi secara bertahap dapat dilakukan pada saham-saham pilihan apabila investor melihat fundamental dan prospek pemulihan yang memadai.

"Secara teknikal dan fundamental, koreksi sehat ini dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham pilihan sebelum harga memasuki fase pemulihan," kata Nafan.

Dengan demikian, investor perlu mencermati perkembangan arus dana asing, pergerakan rupiah, kebijakan The Fed dan BI serta kondisi harga komoditas memasuki kuartal IV-2026.

Khusus untuk sektor perbankan, komoditas, consumer dan perkebunan, pergerakan harga saham tetap perlu dibandingkan dengan kinerja fundamental masing-masing emiten, bukan hanya mengandalkan sentimen pemulihan IHSG.



 

BREAKING NEWS! GRUP SALIM SATUKAN KEKUATAN BISNIS SEKTOR KEUANGAN

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×