kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pasar masih bagus, V&Co Jewellery optimistis permintaan berlian terus naik


Jumat, 19 Juli 2019 / 18:58 WIB

Pasar masih bagus, V&Co Jewellery optimistis permintaan berlian terus naik

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bakal tutupnya salah satu tambang berlian terbesar di dunia yakni Argyle di Australia, dinilai tidak  akan berdampak pada permintaan Tanah Air terhadap investasi berlian. Hal ini seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya masyarakat kalangan kelas menengah ke atas.

President Director V&Co Jewellery Melvino mengatakan, kondisi pasar berlian di Indonesia masih cukup bagus, begitu juga ke depannya. Ini diikuti kondisi perekonomian Tanah Air yang cenderung membaik dan mendorong permintaan berlian.


"Keterbatasan pasokan tentunya akan mempengaruhi harga, tapi kami sebagai retailer akan mengikuti pergerakan harga marketnya saja. Kalau ke depan harga berlian naik, kami ikuti kondisi pasar," ungkap Melvino saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (19/7).

Apalagi, dia optimistis pangsa pasar berlian di Indonesia masih cukup besar. Walaupun ada tambang berlian yang ditutup, produksi di tempat lain masih berjalan, ditambah lagi Kalimantan juga memiliki tambang berlian, sehingga tidak ada kekhawatiran bahwa harga berlian ke depan bakal naik.

Disamping itu, V&Co Jewellery juga menyiapkan berbagai strategi untuk bisa menggaet lebih banyak pasar berlian di Tanah Air, terutama untuk pangsa pasar kelas A dan B+. Di antaranya, mulai menjajakan produk berlian lewat online, menawarkan berbagai untuk milenial dengan menawarkan cincin berlian untuk pernikahan yang dibanderol mulai Rp 5 juta hingga Rp 30 juta. 

"Wedding industry jadi salah satu akses bagi penjualan berlian bisa terus bertumbuh," jelasnya.

Adapun beberapa produk berlian ditawarkan dengan harga beragam, mulai dari ukuran 1 karat per butir dibanderol dengan harga Rp 80 juta hingga Rp 150 juta per karat. Sedangkan untuk 1 karat per 100 butir dibanderol mulai harga Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per karatnya.

"Untuk ke depannya, kami sangat optimistis pertumbuhan market kelas A dan B dengan meningkatnya kelas menengah bisa mendorong permintaan berlian. Sehingga prospek ke depan masih cukup baik," tandasnya.

Mengutip Bloomberg, tambang berlian terbesar di dunia yakni tambang Argyle di Australia Barat bakal ditutup. Padahal, tambang yang  merupakan bagian dari Grup Rio Tinto tersebut sudah empat dekade atau sejak 1983 memproduksi berlian berwarna merah muda dan merah.

RBC Capital Markets and Panmure Gordon memperkirakan, penutupan tambang tersebut bakal mendorong kenaikan harga berlian, setelah permintaan berlian cenderung lesu sejak 2011. Tambang berlian Argyle berada 2.600 kilometer (km) timur laut ibu kota Perth rencananya bakal ditutup sebelum 2020 akibat kehabisan pasokan, sebagaimana disampaikan Kepala Produksi Tembaga dan Berlian Rio, Arnaud Soirat. 

Asal tahu saja, hampir 90% produksi tambang Argyle merupakan merupakan berlian merah mudah yang terkenal di pasar berlian global. Di mana, 59,6 karat ditaksi dengan harga US$ 71 juta di April 2017 dan merupakan rekor harga tertinggi untuk jenis permata manapun. Tambang Argyle Riojuga salah satu produsen untuk perusahaan berlian Bain & Co.

 


Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

Tag
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = || diagnostic_web = 0.1360

Close [X]
×