kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Otot rupiah menguat ke Rp 12.800 per dollar AS


Kamis, 16 April 2015 / 11:03 WIB
Otot rupiah menguat ke Rp 12.800 per dollar AS
ILUSTRASI. Ini yang Baru! Kode Redeem Honkai: Star Rail 1.5 Livestream November 2023, Yuk Klaim


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk, Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Otot rupiah menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS), Kamis (16/4). Merujuk pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah menguat ke Rp 12.838 per dollar AS  atau 1,06% dari sebelumnya Rp 12.976 per dollar AS.

Sementara, mengacu data Bloomberg di pasar spot rupiah juga menguat ke Rp 12.847 per dollar AS atau 0,45% dar 12.905 per dollar AS. 

Sebelumnya, Lana Soelistianingsing, Ekonom Samuel Asset Menagement memperkirakan rupiah berpotensi menguat menuju kisaran antara Rp 12.880- Rp12.900 di tengah sentimen pelemahan indeks USD terhadap yen dan euro.

Bersamaan dengan itu, bursa Asia diperkirakan akan terkoreksi hari ini, terindikasi dari indeks futuresnya yang kompak merah.

Isu ekonomi yang akan mempengaruhi pergerakan pasar adalah neraca perdagangan pada Maret yang kembali surplus sebesar US$1,13 miliar. "Ini untuk tiga bulan berturut-turut," katanya.

Selama kuartal I 2015 tercatat surplus sebesar US$2,43 miliar. Surplus terutama berasal dari ekspor non migas yang tumbuh 12,5% mom termasuk naiknya ekspor batubara dan CPO, yang didukung dengan naiknya ekspor ke China dan India.

Dari sisi impor non migas, kenaikan tertinggi terjadi pada barang modal, konsumsi, dan bahan baku. Kenaikan ini sebagai indikasi membaiknya ekonomi di Q2-2015.

Sementara dari eksternal yang akan mempengaruhi pasar adalah perlambatan ekonomi China. Kuartal I 2015 ekonomi China tumbuh 7% secara yoy, sementara pada periode yang sama tahun sebelumnya tumbuh 7,4% yoy.

Perlambatan ekonomi ini terlihat dari turunnya kinerja ekspor, produksi di sektor manufaktur, dan penjualan ritel. Lana bilang, kemungkinan Pemerintah dan Bank Sentral akan memberikan tambahan stimulus. Pemerintah China memproyeksi turun pertumbuhan ekonomi dari 7,5% menjadi 7% tahun 2015 ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×