Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029, tercatat belum memenuhi target pemerintah.
Hingga penutupan masa penawaran, penjualan ORI029 masih menyisakan kuota cukup besar, terutama pada tenor panjang.
Mengutip data platform investasi PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit), tercatat penawaran yang masuk hingga periode penutupan hanya mencapai Rp 14,478 triliun atau sekitar 57,9% dari target penghimpunan dana Rp 25 triliun.
Dengan begitu, penjualan ORI029 secara total masih tersisa Rp 10,522 triliun dari kuota yang disediakan.
Jika diperinci, ORI029-T3 masih tersisa sekitar 26,78% atau setara dengan Rp 4,017 triliun dan ORI029-T6 masih tersisa 65,05% atau Rp 6,505 triliun.
Baca Juga: Cek Strategi Investor Ritel: ORI untuk Stabilitas, SUN FR untuk Imbal Hasil
Menanggapi kondisi tersebut, Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, menilai belum optimalnya permintaan ORI029 dipengaruhi oleh kombinasi sentimen dan kondisi pasar yang berkembang di awal tahun.
Menurut Putri, kenaikan yield SBN di pasar sekunder membuat sebagian investor ritel memilih langsung membeli SBN di pasar sekunder atau menunggu level imbal hasil yang dinilai lebih menarik.
Selain itu, Putri menyebut faktor teknis turut berperan, yakni tidak adanya jatuh tempo SBN ritel di awal tahun. Kondisi tersebut membuat arus dana reinvestasi tidak sebesar periode-periode sebelumnya, sehingga permintaan pada penerbitan baru relatif terbatas.
Di sisi lain, investor ritel juga dinilai semakin sensitif terhadap level kupon. Dalam situasi pasar tertentu, sebagian investor terlihat melakukan realokasi portofolio ke instrumen lain yang momentumnya sedang positif, seperti emas.
“Jadi, ini lebih mencerminkan sikap selektif dan wait-and-see, bukan hilangnya minat struktural terhadap SBN ritel,” ujar Putri kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Baca Juga: Hingga Akhir Masa Penawaran, Penjualan SBN Ritel ORI029 Baru Terserap 57,9%
Meski demikian, Putri menilai prospek penerbitan SBN ritel sepanjang tahun ini masih tetap terbuka, meskipun tidak lepas dari berbagai tantangan. Ia memperkirakan kondisi tahun ini akan relatif serupa dengan tahun sebelumnya.
Diperkirakan tren suku bunga yang cenderung menurun berpotensi menekan tingkat kupon SBN ritel.
Pada saat yang sama, volatilitas global serta hadirnya alternatif investasi yang dinilai lebih menarik, seperti emas atau instrumen berisiko, berpeluang menyerap sebagian likuiditas investor ritel.
Dengan demikian, permintaan kemungkinan sangat bergantung pada momentum pasar.
Untuk diketahui ORI029 merupakan SBN ritel pertama yang diterbitkan oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan di tahun ini dengan masa penawaran mulai 26 Januari–19 Februari 2026.
Baca Juga: Mitra Distribusi Optimalkan Penjualan ORI029
Bagi tenor tiga tahun, ORI029T3 menawarkan kupon sebesar 5,45% per tahun, sementara ORI029T6 dengan tenor enam tahun memberikan kupon lebih tinggi sebesar 5,80% per tahun.
Selain ORI029, pemerintah juga akan menerbitkan tujuh seri SBN ritel lain di sepanjang 2026, mulai dari: SR024 pada 6 Maret–15 April 2026, ST016 pada 8 Mei–3 Juni 2026, ORI030 pada 6–30 Juli 2026, SR025 pada 21 Agustus–16 September 2026, SWR007 pada 4 September–21 Oktober 2026, SBR015 pada 28 September–22 Oktober 2026, serta ST017 pada 6 November–2 Desember 2026.
Selanjutnya: Saham Big Banks Kompak Menghijau Jumat (20/2), BBRI Pimpin Kenaikan 1,86%
Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Kabupaten Banyuwangi Ramadan 2026 Lengkap
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)