kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.922.000   20.000   0,69%
  • USD/IDR 17.021   8,00   0,05%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Nikel alami koreksi sesaat


Rabu, 30 November 2016 / 21:09 WIB


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Setelah mencapai level tertingginya sejak 1,5 tahun terakhir di awal pekan ini, akhirnya harga nikel mulai mengalami pelemahan. Koreksi diperkirakan hanya akan terjadi sesaat. Nikel dinilai masih memiliki sokongan fundamental untuk kembali bergerak naik.

Mengutip Bloomberg, Selasa (29/11) harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange melemah hingga 4,73% ke level US$ 11.080 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Namun harga tersebut masih jauh lebih tinggi dari pekan lalu yang hanya berada di level US$ 11.370 per metrik ton.

Andri Hardianto, Analis PT Tradepoint Futures melihat harga masih berpotensi menguat kembali. Secara fundamental, pasokan yang terbatas dan permintaan yang terus meningkat cukup memberi sentimen positif bagi pergerakan harga nikel.

World Bureau of Metal Statistic telah merilis defisit nikel periode Januari-September di pasar global sudah mencapai 76.400 per metrik ton. Myanmar sebagai pemasok terbesar nikel produksinya masih terhambat.

Kemudian larangan ekspor bijih nikel di Indonesia juga semakin memperparah minimnya pasokan. Defisit diperkirakan akan terjadi hingga akhir tahun nanti.

Sedangkan dari sisi permintaan justru menunjukkan peningkatan. Produksi kendaraan listrik terus mengalami pertumbuhan. Kemudian dari Amerika Serikat, presiden terpilih Donald Trump tengah berencana untuk meningkatkan sektor industri dan manufaktur.

Jika rencana itu terealisasi komoditas logam pasti akan terangkat. “Tahun depan permintaan masih tinggi. Januari kan Trump masuk ke White House,” terangnya kepada KONTAN, Rabu (30/11).

Menurut Andri pengaruh dua hal tersebut masih lebih kuat dibanding sentimen dari hasil pertemuan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang berlangsung Rabu (30/11) petang.

Kalau pada akhirnya organisasi negara pengekspor minyak itu gagal memutuskan pembatasan produksi dan harga minyak masih cenderung melemah, tetap saja peningkatan produksi smelter tidak bisa terakomodir karena pasokan nikel yang minim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×