kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Negara terima dividen 58% lebih tinggi daripada tahun lalu


Senin, 27 Mei 2019 / 17:11 WIB

Negara terima dividen 58% lebih tinggi daripada tahun lalu

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Negara Republik Indonesia mengantongi setoran dividen lebih tinggi dari perusahaan-perusahaan pelat merah yang bernaung di bawah Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kalau dihitung-hitung total pemasukan negara dari laba BUMN tahun buku 2018 mencapai Rp 33,2 triliun.

Jumlah tersebut naik 58% ketimbang setoran tahun lalu. Hitungan Kontan, pada tahun buku 2017 lalu negara meraih gelontoran dividen sebesar Rp 21,01 triliun.


Dari kinerja di tahun buku 2018, emiten-emiten pelat merah menebar total dividen sebesar Rp 57,04 triliun. Jumlah itu naik sebesar 11% dari dividen tahun lalu dimana perusahaan-perusahaan BUMN yang tercatat melantai di bursa menebar dividen dengan total nilai Rp 51, 40 triliun.

Meski naik, jumlah pertumbuhannya masih kalah besar bila dibandingkan tahun 2016 ke tahun 2017. Pada periode tersebut, emiten-emiten plat merah mencatatkan pertumbuhan dividen sebesar 32,4%. Total dividen yang dicatatkan pada tahun 2016 sebesar Rp 38,83 triliun.

Tahun ini, sektor perbankan menyumbang dividen tertinggi. Empat emiten perbankan milik negara seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Bank Tabungan Negara (BBTN) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menyumbang 55,72% dari total dividen yang masuk ke kas negara.

Jumlah itu setara dengan Rp 18,50 triliun. Rinciannya BBRI menyetor dividen sebesar Rp 9,18 triliun, BMRI sebesar Rp 6,74 triliun. Sedangkan BBNI dan BBTN masing-masing menebar dividen sebesar Rp 2,25 triliun dan Rp 336,95 miliar.

Selain ketiga perusahaan perbankan itu, ada pula Telekomunikasi Indonesia (TLKM) yang sumbangan dividennya kepada negara mencapai Rp 9,44 triliun. TLKM sendiri mengalokasikan sebesar 90% atau sekitar Rp 16,32 triliun dari labanya yang sebesar Rp 18,03 triliun sebagai dividen. Kepemilikan negara pada perusahaan telekomunikasi tersebut mencapai 52,09%.

Sedangkan dari sektor konstruksi serta penunjangnya, negara berhasil meraup dividen segar sebesar Rp 1,03 triliun. Rinciannya, Adhi Karya (ADHI) menyetor dividen kepada negara sebesar Rp 65,57 miliar. Lalu Waskita Karya (WSKT)menyetor sebesar Rp 654,22 miliar. Sedangkan PT PP (PTPP) dan Wijaya Karya (WIKA) masing-masing sebesar Rp 151,73 miliar dan Rp 156, 36 miliar.

Lalu dari sektor tambang serta sumber daya alam mineral, negara memiliki beberapa perusahaan seperti Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bukit Asam (PTBA), PT Timah Tbk (TINS) dan PT Aneka Tambang (ANTM). Porsi kepemilikan negara dari masing-masing perusahaan itu sebesar 65% untuk PGAS, dan PTBA. Sedangkan kepemilikan negara di ANTM mencapai 56,96%.

Dari kepemilikan yang lebih dari separuh itu, total dividen yang diraup negara dari sektor tambang ditaksir mencapai Rp 3,51 triliun. Rinciannya, PTBA menjadi penyumbang terbesar dengan jumlah dividen mencapai Rp 2,54 triliun. Setelahnya berturut-turut diikuti oleh PGAS, ANTM dan TINS dengan nilai sebesar Rp 786,98 miliar, dan Rp 198,93 miliar.

Sedangkan dari sektor lain, diantaranya pengelola jalan tol seperti JSMR dan juga dari sektor industri dasar yakni produsen semen Semen Indonesia (SMGR), negara meraih total dividen sebesar Rp 856,86 miliar. Rinciannya, JSMR menyumbang sebesar Rp 228,6 miliar. Sedangkan SMGR menyetor Rp 628,26 miliar.

Kepala riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengatakan secara keseluruhan, jumlah dividen yang ditebar oleh perusahaan pelat merah memang naik. Alfred menghitung dari total rasio dividen yang dibayarkan (dividend payout ratio) perusahaan BUMN.

Dengan total laba yang diraup sebesar Rp 117,6 triliun, sementara dividen yang dibagikan sebesar Rp 57,04 triliun, maka divided payout ratio BUMN mencapai 48,5%. “Rasio itu naik tipis mengingat di tahun buku 2017, dividend payout ratio perusahaan BUMN sebesar 47,9%.,” ungkap Alfred kepada Kontan, Senin (27/5).

Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, meski total dividend payout ratio BUMN naik, sebarannya tak merata. “Kalau dilihat hanya dari sektor perbankan dan sektor telekomunikasi saja yang pertumbuhannya signfikan,” kata Teguh kepada Kontan.co.id, Senin (27/5).

Teguh mengatakan kinerja perusahaan BUMN dari kedua sektor tersebut tak lepas dari situasi makro ekonomi serta digitalisasi yang semakin semarak. “Makro ekonomi di tahun 2018 relatif bagus, makanya signifikan ke bank-bank BUMN. Pun dengan digitalisasi yang semakin menyentuh setiap lini kehidupan, membuat kinerja TLKM cukup baik,” jelas Teguh.

Hal serupa juga dikatakan oleh VP Research Artha Sekuritas Frederik Rasali. Ia mengatakan meski jumbo, harus diakui bahwa prospek sektor hingga kapitalisasi pasar emiten di bursa saham memengaruhi jumlah dividen. “Terlebih besaran dividen kan juga harus ditepati sebagaimana prospektus awal ketika perusahaan akan melantai di bursa,” kata Frederik.

Sama seperti Teguh, Frederik juga melihat sepanjang 2018 sektor perbankan merupakan sektor yang paling utama terkena imbas positif dari pertumbuhan ekonomi yang ia nilai relatif baik. “Pun dalam jangka panjang 10 tahun hingga 15 tahun ke depan, sektor keuangan masih bisa diandalkan,” tandas Frederik ketika dihubungi Kontan pada waktu yang sama.

Pun bila dibandingkan dengan BUMN dari sektor konstruksi serta infrastruktur, perbankan masih lebih prospektif. “Karena kalau kita lihat alokasi APBN untuk pembangunan infrastruktur juga tidak tumbuh secara signifikan. Sedangkan ekonomi makro domestik kita masih baik,” kata Frederik.

Alfred Nainggolan menambahkan, dari data tersebut, ada niat serta usaha dari pemerintah untuk terus memacu investasi dengan menaikkan dividend payout ratio sehingga imbal hasil investasi terlihat semakin menarik,” jelasnya. Sedangkan Frederik dan Teguh bilang, pertumbuhan itu tak lepas dari usaha negara untuk dapat menjaga pemasukan yang salah satunya didapat dari laba perusahaan BUMN.


Reporter: Aloysius Brama
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×