Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nasib status pasar saham Indonesia masih menggantung. Penyedia indeks global, MSCI, memutuskan memperpanjang masa peninjauan reformasi pasar modal Indonesia hingga Juni 2026.
Artinya, kepastian apakah Indonesia tetap di level pasar berkembang atau turun ke “pasar perbatasan” belum juga ditentukan.
Keputusan ini mempertegas sikap MSCI yang masih “wait and see” terhadap berbagai reformasi yang sudah digulirkan otoritas Indonesia.
Baca Juga: Keputusan MSCI Bekukan Evaluasi Saham RI Berpotensi Tekan IHSG & Hambat Dana Asing
Mereka ingin memastikan implementasi kebijakan benar-benar berjalan sebelum mengambil langkah besar yang bisa berdampak ke arus investasi global.
Tekanan terhadap pasar sudah terasa sejak awal tahun. Sejak peringatan MSCI pada Januari lalu, pasar saham Indonesia langsung terpukul.
Indeks saham di Jakarta tercatat turun sekitar 12% sepanjang tahun berjalan, menjadikannya salah satu yang terburuk di Asia. Di saat yang sama, investor asing mencatatkan jual bersih sekitar US$2,3 miliar, menandakan turunnya kepercayaan jangka pendek.
MSCI juga belum melonggarkan kebijakannya. Mereka masih membekukan peningkatan faktor inklusi asing, tidak menambah saham Indonesia ke indeks investable, serta menahan kenaikan klasifikasi saham di berbagai segmen.
Baca Juga: Potensi Dana US$ 50 Miliar Masuk Ke Pasar Saham RI & Tantangan Penambahan Free Float
Langkah ini membuat ruang masuk dana global ke pasar domestik tetap terbatas.
Pelaku pasar menilai keputusan ini sudah sesuai ekspektasi. Manajer dana SGMC Capital, Mohit Mirpuri, menyebut MSCI memang cenderung berhati-hati. “Pendekatannya terukur, menunggu, melihat, dan tetap terlibat.
Tapi mereka butuh waktu lebih untuk menilai implementasi reformasi,” ujarnya. Ia menambahkan, pasar kini cenderung bergerak stagnan sambil menunggu keputusan Juni sebagai katalis utama berikutnya.
Dari sisi domestik, Bursa Efek Indonesia memastikan komunikasi dengan MSCI terus berjalan.
Pelaksana tugas CEO BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pihaknya telah bertemu MSCI dan akan terus menjaring masukan dari investor global guna memperkuat pasar modal ke depan.
Sejak awal tahun, pemerintah dan regulator memang sudah menggulirkan sejumlah reformasi penting.
Baca Juga: Pasar Saham Semakin Suram
Di antaranya peningkatan transparansi melalui pengungkapan data pemegang saham yang lebih rinci, serta menaikkan batas minimum free float menjadi 15% guna meningkatkan likuiditas dan meminimalkan potensi manipulasi harga.
Namun, MSCI menegaskan bahwa seluruh perubahan itu belum akan langsung dimasukkan dalam metodologi indeks. Mereka masih menunggu evaluasi menyeluruh, termasuk umpan balik dari pelaku pasar, sebelum melakukan penyesuaian.
Menariknya, di tengah ketidakpastian ini, penyedia indeks lain, FTSE Russell, justru tetap mempertahankan posisi Indonesia sebagai pasar berkembang sekunder dan tidak memasukkannya ke dalam daftar pemantauan.
Baca Juga: Berharap Ekonomi Jadi Obat Mujarab Pasar Saham
Dengan kondisi ini, arah pasar saham Indonesia dalam jangka pendek masih akan ditentukan oleh satu faktor kunci: keputusan MSCI pada Juni.
Jika hasilnya positif, arus dana asing berpotensi kembali. Sebaliknya, jika status diturunkan, tekanan terhadap pasar bisa berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













