kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.003.000   87.000   2,98%
  • USD/IDR 16.734   -57,00   -0,34%
  • IDX 8.321   -659,67   -7,35%
  • KOMPAS100 1.149   -90,86   -7,33%
  • LQ45 813   -63,58   -7,26%
  • ISSI 305   -25,64   -7,75%
  • IDX30 418   -26,36   -5,93%
  • IDXHIDIV20 493   -25,93   -4,99%
  • IDX80 127   -10,53   -7,65%
  • IDXV30 138   -5,68   -3,95%
  • IDXQ30 134   -8,31   -5,83%

MSCI Bekukan Indonesiai: Strategi BEI Selamatkan Status Pasar Saham Domestik


Kamis, 29 Januari 2026 / 05:35 WIB
MSCI Bekukan Indonesiai: Strategi BEI Selamatkan Status Pasar Saham Domestik
ILUSTRASI. Pergerakan harga saham di Papan Digital Pasar Saham di BEI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. MSCI membekukan evaluasi indeks saham Indonesia hingga Mei 2026. Tak hanya itu, Indonesia juga berpotensi turun kasta dari emerging market menjadi tfrontier market. 

Kini Bursa Efek INdonsia (BEI)  memaparkan strategi menjaga pasar saham dan memperbaiki transparansi free float agar terhindar dari penurunan status ke Frontier Market.

Pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (28/1/2026) menyusul keputusan MSCI yang menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar modal domestik. Menyikapi hal tersebut, manajemen BEI memaparkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas dan kinerja pasar saham ke depan.

Sebagaimana diketahui, MSCI memutuskan untuk membekukan sejumlah perubahan dalam evaluasi indeks Indonesia hingga Mei 2026. Dalam kebijakan tersebut, MSCI menahan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

Baca Juga: Bikin IHSG Terpukul, Kenapa MSCI Bekukan Evaluasi Saham Indonesia? Begini Kata Analis

Tak hanya itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari kategori Small Cap ke Standard. Langkah ini dilakukan untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas di pasar Indonesia.

“Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna,” tulis MSCI dalam pengumuman resminya yang dirilis pada Selasa (27/1/2026) malam.

MSCI juga memberi sinyal bahwa jika tidak terdapat perbaikan hingga Mei 2026, Indonesia berpotensi mengalami penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Apabila skenario tersebut terjadi, posisi Indonesia akan sejajar dengan Vietnam dan Filipina.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyampaikan bahwa pihaknya masih membutuhkan waktu untuk berdiskusi lebih intensif dengan MSCI guna memahami secara detail kebutuhan dan ekspektasi lembaga pemeringkat global tersebut.

Tonton: Pemerintah Buka Peluang Ambil Alih Operasional 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya

Per Rabu (28/1/2026), BEI masih menyusun formula yang akan diajukan kepada MSCI sebelum batas waktu evaluasi pada Mei 2026. Ia mengungkapkan bahwa komunikasi antara BEI dan MSCI sejatinya telah berlangsung sejak Desember 2025.

Kala itu, manajemen BEI bertemu langsung dengan pimpinan MSCI di New York, Amerika Serikat, untuk membahas perubahan metodologi penghitungan free float saham.

“Ini yang nanti akan terus kami diskusikan dan prosesnya akan berjalan sampai dengan yang kami harapkan sebelum Mei,” ujar Iman kepada wartawan di Gedung BEI, Rabu (28/1/2026).

BEI menegaskan bahwa pihaknya telah berupaya memenuhi kebutuhan transparansi free float emiten. Namun, keputusan MSCI terbaru mengindikasikan masih adanya perbedaan persepsi terkait kecukupan data yang disediakan oleh self regulatory organization (SRO) di Indonesia.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa keterbukaan informasi free float sejatinya telah lama diterapkan dan diinput secara rutin ke dalam sistem Bursa.

Menurutnya, emiten wajib melaporkan struktur kepemilikan saham, pihak terafiliasi, serta porsi free float setiap bulan dan setiap kali terjadi perubahan. Selain itu, data free float juga dipublikasikan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan menjadi salah satu rujukan MSCI.

“MSCI sebagai institusi global tentu menggabungkan berbagai sumber data. Data free float sudah tersedia di Bursa, termasuk yang berasal dari KSEI,” ujarnya. 

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) BEI, Irvan Susandy, menambahkan bahwa seluruh data free float dapat diakses melalui laman resmi BEI serta dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Saat ini, data yang disajikan mencakup sembilan jenis investor, mulai dari investor individu, reksa dana, korporasi, hingga kategori lainnya, baik investor lokal maupun asing dengan kepemilikan di bawah dan di atas 5%.

“Yang dilihat adalah jumlah lembar saham, bukan jumlah pemegang saham,” tegas Irvan.

Ke depan, BEI bersama KSEI akan mengupayakan perincian data investor yang lebih detail. Di sisi lain, Bursa juga memastikan fungsi pengawasan tetap berjalan, termasuk penerapan sanksi apabila terdapat ketidaksesuaian data yang dipublikasikan oleh emiten.

“Poin terpenting, data yang disajikan oleh Bursa Indonesia adalah data yang benar dan akurat. Saat ini tantangannya adalah menyesuaikan kebutuhan MSCI dengan data yang kami sediakan, dan itu yang terus kami perbaiki,” tutup Irvan.

Purbaya Lakukan Restrukturisasi Besar besaran Pegawai Bea Cukai dan Pajak

Selanjutnya: Tingkatkan Kepercayaan Investor, BBCA Siapkan Buyback Saham hingga Rp 5 Triliun

Menarik Dibaca: Cuma Rp1 Jutaan, HP Murah Ini Punya RAM Besar & Spek Gila! Kok Bisa?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×