kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.956.000   -17.000   -0,57%
  • USD/IDR 16.845   66,00   0,39%
  • IDX 8.104   -42,84   -0,53%
  • KOMPAS100 1.140   -5,81   -0,51%
  • LQ45 829   -3,44   -0,41%
  • ISSI 285   -2,28   -0,79%
  • IDX30 433   -0,67   -0,15%
  • IDXHIDIV20 521   1,04   0,20%
  • IDX80 127   -0,56   -0,44%
  • IDXV30 142   0,14   0,10%
  • IDXQ30 140   0,20   0,14%

Moody’s Pangkas Outlook Kredit Indonesia Jadi Negatif, Ini Dampaknya ke Pasar Saham


Kamis, 05 Februari 2026 / 19:56 WIB
Moody’s Pangkas Outlook Kredit Indonesia Jadi Negatif, Ini Dampaknya ke Pasar Saham
ILUSTRASI. IHSG sesi I ditutup melemah (ANTARA FOTO/SULTHONY HASANUDDIN)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s dinilai menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar modal. 

Asal tahu saja, Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, namun tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level Baa2, baik untuk mata uang lokal maupun asing.

Dalam pernyataan resminya pada 5 Februari 2026, Moody’s menyebut perubahan outlook ini didorong oleh menurunnya prediktabilitas kebijakan, yang berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan serta kualitas tata kelola pemerintahan. Jika tren ini berlanjut, kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini menjadi penopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sistem keuangan dinilai dapat tergerus.

Baca Juga: Medco Energi (MEDC) Dapat Pinjaman Rp 800 Miliar, Simak Rekomendasi Sahamnya

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyampaikan, keputusan itu tetap mengindikasikan bahwa Indonesia belum kehilangan status layak investasi, meskipun tingkat risiko dinilai meningkat, terutama dari sisi tata kelola dan kepastian kebijakan. 

“Bagi pasar modal, ini bukan kabar yang bisa diabaikan, karena sentimen global saat ini sangat sensitif terhadap isu kredibilitas kebijakan dan stabilitas institusi,” ujarnya dalam riset yang diterima Kontan, Kamis (5/2).

Ke depan, dampak utama dari penurunan outlook ini lebih terasa pada psikologi pasar dan peningkatan risk premium, bukan pada pelemahan fundamental ekonomi jangka pendek. Investor global cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas meningkatnya ketidakpastian kebijakan. 

Kondisi ini berpotensi tercermin pada kenaikan yield SBN tenor panjang, pelebaran spread obligasi, serta tekanan arus dana asing di pasar saham. Khususnya, pada saham berkapitalisasi besar dan emiten BUMN yang selama ini menjadi cerminan kepercayaan investor terhadap negara.

Di pasar saham, reaksi yang muncul cenderung bersifat selective selling, bukan panic selling. Saham bank BUMN dan emiten strategis milik negara berpotensi lebih tertekan karena investor mulai memasukkan risiko tambahan, mulai dari tekanan kebijakan dividen, peran negara yang lebih dominan, hingga potensi kewajiban kontinjensi yang disorot Moody’s melalui pembentukan Danantara. 

“Namun tekanan ini lebih mencerminkan penyesuaian valuasi terhadap risiko, bukan perubahan drastis pada prospek bisnis emiten secara fundamental,” ungkapnya.

Baca Juga: Industri Otomotif Diramal Pulih, Intip Saham Terdiskon Pilihan Maybank Sekuritas

Dalam jangka pendek, kata Hendra, IHSG memang rentan mengalami koreksi. Secara teknikal, indeks berpotensi menguji area psikologis 8.000 yang menjadi level krusial. Apabila level ini ditembus, ruang penurunan terbuka menuju area support berikutnya di kisaran 7.888. 

Sementara dari sisi atas, resistance IHSG berada di area 8.200, yang akan menjadi tantangan kuat selama sentimen global dan domestik belum sepenuhnya pulih. 

“Namun koreksi ini lebih tepat dibaca sebagai fase konsolidasi yang sehat, bukan awal dari tren bearish struktural,” ungkapnya.

Terkait kekhawatiran potensi Indonesia turun kelas menjadi frontier market oleh MSCI, risikonya masih relatif kecil dalam waktu dekat. Penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat tidak otomatis mengubah status pasar modal. 

Klasifikasi emerging market oleh MSCI dan FTSE lebih banyak ditentukan oleh faktor aksesibilitas pasar, likuiditas, serta stabilitas dan konsistensi regulasi pasar modal, bukan semata oleh rating kredit. 

“Selama Indonesia tetap menjaga status investment grade, likuiditas pasar, dan keterbukaan terhadap arus modal asing, risiko penurunan ke frontier masih dapat dikendalikan,” ungkapnya.

Meski demikian, Hendra bilang, peringatan dari Moody’s tidak bisa dianggap enteng. Jika ke depan terjadi penurunan peringkat kredit yang nyata, disertai memburuknya kualitas regulasi, lemahnya perlindungan investor, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan, maka persepsi global terhadap pasar Indonesia bisa tertekan lebih dalam. 

Baca Juga: Pengetatan Aturan IPO Bisa Perlambat Laju Pencatatan Saham Baru

“Pada titik inilah risiko terhadap posisi Indonesia di mata investor global akan meningkat secara struktural,” katanya.

Hendra menegaskan, langkah Moody’s ini lebih tepat dibaca sebagai peringatan dini, bukan alarm darurat. Pemerintah dan otoritas diharapkan mampu memperkuat koordinasi kebijakan, memperbaiki komunikasi publik, serta menjaga disiplin fiskal dan moneter agar kepercayaan investor tetap terjaga. 

Bagi investor, volatilitas yang muncul justru membuka ruang untuk strategi akumulasi yang lebih selektif pada saham-saham berfundamental kuat, defensif terhadap risiko kebijakan, dan memiliki arus kas yang solid. 

“Selama fondasi ekonomi tetap terjaga, pasar modal Indonesia masih memiliki daya tahan, meski perjalanan ke depan akan lebih menantang dan menuntut kehati-hatian yang lebih tinggi,” tuturnya.

Selanjutnya: Pakuwon Jati (PWON) Siapkan Capex Rp 2,2 Triliun di Tahun 2026

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Jumat 6 Februari 2026, Keadaan Harmonis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×