kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.904   -126,00   -0,70%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Mistry: CPO bisa cetak level RM 4.000 di tahun ini


Jumat, 20 April 2012 / 11:55 WIB
ILUSTRASI. Layanan Vaksinasi Guru di Lippo Mal Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (13/04). Vaksin virus corona memiliki efek yang bersifat ringan. KONTAN/Baihaki/13/04/2021


Reporter: Dupla Kartini, Bloomberg | Editor: Dupla Kartini

KUALA LUMPUR. Harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) kembali diproyeksi bakal mencapai level RM 4.000 (US$ 1.302) per metrik ton di tahun ini. Direktur Godrej International Ltd. Dorab Mistry menyebut, minyak sawit mungkin akan kembali melesat pasca harganya merosot belakangan ini.

"Harganya mungkin akan naik 15% hingga akhir Juni. Saya optimis dan senang bisa menegaskan kembali prediksi ini," kata Mistry.

Sebagai catatan, kontrak CPO untuk pengiriman Juli di Malaysia Derivatives Exchange bergerak tipis ke posisi RM 3.477 pada penutupan kemarin. Ini level terendah sejak 30 Maret. Siang ini, kontrak yang sama kembali tergerus 0,3% ke level RM 3.465 per metrik ton.

Namun, sejatinya, harga minyak sawit di Malaysia sudah naik 9,5% di tahun ini. Hal itu sejalan dengan prediksi Mistry sebelumnya. Meskipun, sejak 10 April lalu, harganya mulai terkoreksi dari level tertinggi 13 bulan di RM 3.628 per metrik ton. Koreksi terjadi, karena pasar khawatir pemulihan global akan berisiko setelah pertumbuhan ekonomi China melambat dan memburuknya krisis utang Eropa.

Mistry mengklaim, ia memproyeksi harga berdasarkan fundamental pasokan dan permintaan, dan itu tidak berubah sampai saat ini. Pada Maret lalu, produksi Malaysia tercatat 1,21 juta ton, atau 14% lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu. Angka produksi per Maret juga turun 2,1% dibanding produksi Februari.

Menurut Mistry, Malaysia memiliki siklus produksi tinggi pada tahun 2011, sehingga mencatatkan rekor produksi sebesar 18,9 juta ton. "Namun, siklus produksi rendah terjadi mulai Januari, yang berarti produksi tahun ini hanya akan berkisar 18,6 juta hingga 19 juta ton," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×