Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Bitcoin dan Ether masih berada dalam tekanan. Minimnya katalis positif serta sentimen terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian pelaku pasar aset kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Selasa (15/9/2026) pukul 14.00 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 77.252. Bitcoin terkoreksi 0,39% dalam 24 jam terakhir dan melemah 1,33% dalam sepekan.
Harga Ether juga terkoreksi 1,13% secara harian menjadi US$ 2.485. Meski demikian, Ether masih mencatatkan kenaikan 0,68% dalam sepekan.
Baca Juga: BSA Logistics (WBSA) Kantongi Fasilitas Pinjaman Rp 75 Miliar dari Bank OCBC
Tekanan terhadap Bitcoin turut terlihat dari arus dana pada produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF) di Amerika Serikat. Berdasarkan data SoSoValue, spot Bitcoin ETF mencatatkan arus dana keluar bersih sebesar US$ 462,7 juta pada pekan lalu.
Arus dana keluar tersebut terjadi selama empat hari perdagangan berturut-turut. Spot Bitcoin ETF mencatatkan outflow US$ 46,7 juta pada Selasa, US$ 120,2 juta pada Rabu, US$ 282,7 juta pada Kamis, dan US$ 13,2 juta pada Jumat.
Arus dana ETF tersebut berbalik setelah sebelumnya mencatatkan inflow sekitar US$ 3,8 miliar dalam tiga pekan pada 17 Agustus hingga 4 September 2026. Aliran dana masuk tersebut ikut menopang pergerakan Bitcoin hingga sempat berada di atas US$ 80.000.
Co-Founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir mengatakan, pergerakan Bitcoin dan Ether dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi sentimen pasar global.
"Dalam jangka pendek ini, sentimen pasar secara umum digerakkan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika. Hal ini juga berlanjut kepada harga Bitcoin dan Ether," ujar Christopher kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).
Christopher menyebut, memperkirakan pergerakan Bitcoin dan Ether masih cenderung tertekan dalam beberapa pekan ke depan. Minimnya katalis positif membuat ruang bagi aset kripto utama untuk menguat menjadi lebih terbatas.
"Untuk beberapa minggu ke depan, diperkirakan harga akan cenderung tertekan dikarenakan minimnya katalis positif," katanya.
Untuk akhir tahun, Christopher memperkirakan harga Bitcoin masih berpotensi mengalami koreksi lebih dalam. Bitcoin diproyeksikan dapat kembali ke kisaran US$ 50.000-US$ 60.000, sedangkan Ether berpotensi turun ke sekitar US$ 2.000.
Di luar Bitcoin dan Ether, investor jangka panjang masih dapat berfokus pada aset kripto utama. Christopher menyebut Hyperliquid sebagai salah satu aset lain yang dapat menjadi tambahan pilihan.
Bagi investor jangka panjang, strategi dollar cost averaging (DCA) masih dapat menjadi pilihan di tengah pergerakan pasar yang berfluktuasi. Sementara bagi trader, strategi dapat disesuaikan dengan momentum pergerakan harga dalam jangka pendek.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terus Menanjak, Risiko Tekanan ke Rupiah Menguat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














