kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Minim Katalis, Bitcoin Berisiko Turun ke US$ 50.000


Jumat, 27 Februari 2026 / 11:19 WIB
Minim Katalis, Bitcoin Berisiko Turun ke US$ 50.000
ILUSTRASI. Bitcoin (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan signifikan sepanjang Februari 2026.

Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat merosot lebih dari 19% secara bulanan, menjadikannya kinerja terburuk sejak Juni 2022.

Pada perdagangan Jumat (27/2) pagi, harga Bitcoin berada di level US$ 67.126,9 atau turun 24,53% dalam sebulan terakhir.

Baca Juga: CPO Masuk dalam Perjanjian Tarif RI-AS, Begini Respons Prime Agri Resources (SGRO)

Co-founder Cryptowatch Christopher Tahir menilai, pelemahan tajam Bitcoin dipicu oleh minimnya katalis positif di pasar, di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah.

“Minimnya katalis serta tekanan dari segala sisi menyebabkan penurunan harga ini,” ujar Christopher kepada Kontan, Rabu (25/2/2026).

Meski demikian, ia melihat peluang pemulihan dalam jangka pendek masih terbuka. Hal ini seiring mulai munculnya akumulasi terbatas dari investor, baik melalui produk exchange traded fund (ETF) maupun aktivitas on-chain.

“Akumulasi dari sisi investor ETF dan on-chain dapat memberikan angin segar untuk pemulihan jangka pendek,” imbuhnya.

Baca Juga: Saham BIPP, JAYA, KAQI, TAMA, dan MGRO Masuk Radar UMA

Untuk prospek ke depan, Christopher memproyeksikan pergerakan Bitcoin pada semester I-2026 masih akan berada dalam tekanan.

Ia memperkirakan harga BTC berpotensi melemah menuju kisaran US$ 50.000 pada paruh pertama tahun ini, sebelum menemukan keseimbangan baru di pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×