Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Minahasa Membangun Hebat Tbk (HBAT) menyiapkan sejumlah strategi untuk mendorong kinerja pada tahun 2026, di tengah tantangan sektor properti yang masih dibayangi tekanan daya beli dan suku bunga.
Emiten pengembang properti yang berbasis di Minahasa, Sulawesi Utara ini membidik pertumbuhan penjualan dan laba dengan mengandalkan pengembangan proyek eksisting, inovasi produk, serta penguatan sisi pemasaran.
Direktur Utama HBAT, Go Ronny Nugroho, mengatakan perusahaan melihat segmen hunian rumah tapak masih memiliki prospek yang cukup baik dalam jangka panjang. Hal ini ditopang oleh kebutuhan riil masyarakat terhadap hunian, meskipun dalam jangka pendek daya beli belum sepenuhnya pulih.
Baca Juga: Mata Uang Asia Masih Tertekan Dolar AS, Ini Prospek Semester II-2026
“Segmen hunian rumah tapak menawarkan nilai tambah seperti konsep ramah lingkungan dan fitur yang mendukung fleksibilitas aktivitas,” ujarnya belum lama ini.
Dalam menjalankan strategi bisnisnya, HBAT saat ini masih berfokus pada pengembangan proyek utama Sawangan Permai yang berlokasi di Minahasa. Proyek ini memiliki luas kawasan sekitar 15 hektare dan menjadi tulang punggung kontribusi penjualan perusahaan.
Manajemen menilai kawasan tersebut memiliki nilai jual karena didukung lokasi yang strategis, dengan akses ke berbagai fasilitas publik seperti pusat perbelanjaan, rumah sakit, sekolah internasional, hingga infrastruktur transportasi seperti akses tol Manado-Bitung dan Bandara Sam Ratulangi. Keunggulan lokasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu faktor pendorong minat beli konsumen.
Dari sisi produk, perusahaan ini terus melakukan penyesuaian dengan menghadirkan berbagai tipe hunian yang disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi pasar. Setelah mencatatkan penjualan yang solid pada klaster sebelumnya seperti Rosewood dan Modern Grande yang telah habis terjual, HBAT kini melanjutkan pengembangan melalui peluncuran klaster baru.
Beberapa klaster yang tengah dikembangkan antara lain The Classic yang mengusung konsep hunian satu lantai serta New Scandinavian yang menawarkan desain dua lantai dengan pendekatan arsitektur modern. Variasi produk ini diharapkan dapat menjangkau segmen konsumen yang lebih luas tanpa keluar dari target pasar utama perusahaan.
Selain pengembangan unit hunian, HBAT juga melengkapi kawasan dengan berbagai fasilitas penunjang seperti function hall, kolam renang, hingga area barbeque. Penyediaan fasilitas ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan daya tarik kawasan sekaligus memberikan nilai tambah bagi konsumen.
Di sisi lain, perusahaan ini juga terus memperkuat strategi pemasaran, baik melalui kanal digital maupun pendekatan konvensional. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga momentum penjualan di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif.
Baca Juga: Ciputra Development (CTRA) Tebar Dividen Rp 667 Miliar, Potensi Yield Capai 6,37%
Dari sisi kinerja, HBAT mencatatkan penjualan sebesar Rp24,53 miliar pada 2025, atau setara 33,6% dari target tahunan sebesar Rp73,02 miliar. Realisasi ini lebih rendah dibandingkan capaian 2024 yang sebesar Rp39,5 miliar.
Direktur Keuangan HBAT, Andrie Rianto, mengungkapkan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, antara lain melemahnya daya beli masyarakat, tingginya suku bunga kredit, serta meningkatnya kehati-hatian konsumen dalam melakukan pembelian properti.
“Penurunan pencapaian laba juga dipengaruhi oleh volatilitas harga bahan bangunan yang berada di luar kendali perusahaan,” ujarnya.
Sejalan dengan penurunan penjualan, laba bersih perusahaan ini juga mengalami penurunan menjadi Rp2,7 miliar pada 2025, dibandingkan Rp 8,5 miliar pada tahun sebelumnya. Meski demikian, posisi aset perusahaan masih menunjukkan peningkatan menjadi Rp 84,6 miliar dari Rp 82,1 miliar pada 2024.
Kenaikan aset ini terutama didorong oleh penambahan landbank yang dilakukan perusahaan untuk mendukung ekspansi proyek ke depan. Sementara itu, dari sisi struktur permodalan, liabilitas tercatat menurun menjadi Rp 3,5 miliar dari Rp 3,7 miliar, sedangkan ekuitas meningkat menjadi Rp81,2 miliar dari Rp 78,3 miliar.
Untuk mendukung pengembangan bisnis, HBAT telah merealisasikan belanja modal (capex) sekitar Rp 2 miliar pada 2025. Dana tersebut digunakan untuk pembelian lahan tambahan seluas sekitar 2 hektare yang masih berada di sekitar proyek Sawangan Permai.
Seluruh kebutuhan capex tersebut didanai dari kas internal. Selain itu, manajemen juga menyampaikan bahwa dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) telah direalisasikan sepenuhnya hingga akhir 2025, dengan porsi terbesar dialokasikan untuk pembelian lahan, pembangunan fasilitas kawasan, serta modal kerja.
Memasuki 2026, HBAT menargetkan penjualan sebesar Rp88,18 miliar dengan laba bersih sebesar Rp18,3 miliar. Ini artinya pendapatan dan laba HBAT akan meningkat masing-masing sebesar 259,48% dan 577,78%. Target ini mencerminkan optimisme manajemen terhadap potensi pemulihan pasar serta kontribusi dari proyek yang sedang berjalan.
Untuk mencapai target tersebut, perusahaan ini akan mengandalkan percepatan pembangunan unit, optimalisasi penjualan dari klaster baru, serta penguatan strategi pemasaran yang lebih agresif.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis di Akhir Pekan, Investor Nantikan Data Inflasi dan NFP AS
Meski demikian, perusahaan ini tetap mencermati sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja, seperti kenaikan harga material bangunan, peningkatan harga tanah, serta tekanan daya beli masyarakat. Selain itu, pergerakan suku bunga juga menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen melalui skema KPR.
Dengan berbagai tantangan tersebut, manajemen menekankan pentingnya efisiensi operasional serta pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar sebagai kunci untuk menjaga kinerja.
“Perusahaan akan tetap fokus pada penguatan pemasaran, efisiensi operasional, dan pengembangan produk yang sesuai dengan daya beli masyarakat,” kata Ronny.
HBAT berharap strategi yang dijalankan dapat meningkatkan daya saing perusahaan sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan yang masih terbuka di sektor properti, khususnya pada segmen hunian tapak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














