kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.827.000   -10.000   -0,35%
  • USD/IDR 17.050   33,00   0,19%
  • IDX 7.050   -41,73   -0,59%
  • KOMPAS100 972   -4,48   -0,46%
  • LQ45 716   -1,27   -0,18%
  • ISSI 251   -1,31   -0,52%
  • IDX30 389   0,25   0,06%
  • IDXHIDIV20 488   -1,62   -0,33%
  • IDX80 110   -0,50   -0,45%
  • IDXV30 135   -1,12   -0,82%
  • IDXQ30 127   0,12   0,10%

Migrasi Bitcoin ke Standar Pascakuantum Diperkirakan Butuh 5–10 Tahun


Senin, 22 Desember 2025 / 06:01 WIB
Migrasi Bitcoin ke Standar Pascakuantum Diperkirakan Butuh 5–10 Tahun
ILUSTRASI. Bitcoin (Robert Schmiegelt/IMAGO via REUTERS)


Sumber: Cointelegraph | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Migrasi protokol Bitcoin ke standar keamanan pascakuantum diperkirakan membutuhkan waktu panjang, setidaknya lima hingga sepuluh tahun.

Hal tersebut disampaikan pengembang inti Bitcoin sekaligus co-founder perusahaan kustodian kripto Casa Jameson Lopp di tengah perdebatan yang kian menguat soal ancaman komputer kuantum terhadap keamanan Bitcoin.

Melansir Cointelegraph Senin (22/12/2025), Lopp menyatakan bahwa dalam jangka pendek, komputer kuantum belum menjadi ancaman nyata bagi Bitcoin.

Baca Juga: IHSG Rawan Melemah, Cek Rekomendasi Saham untuk Senin (22/12/2025)

Namun demikian, proses perubahan protokol dan migrasi dana dalam skala besar bukan perkara mudah.

“Komputer kuantum tidak akan merusak Bitcoin dalam waktu dekat. Kami akan terus memantau perkembangannya. Namun, melakukan perubahan protokol yang matang dan migrasi dana secara masif bisa dengan mudah memakan waktu lima hingga sepuluh tahun,” tulis Lopp dalam unggahan di platform X.

Ia menambahkan bahwa Bitcoin memiliki tantangan tersendiri karena bersifat terdesentralisasi.

Berbeda dengan perusahaan teknologi terpusat, setiap perubahan protokol Bitcoin harus disepakati bersama oleh para pelaku jaringan melalui mekanisme konsensus.

Perdebatan soal ancaman kuantum ini memunculkan perbedaan pandangan di komunitas Bitcoin.

Baca Juga: Jadi Pemberat IHSG, Begini Rekomendasi Saham BBCA dan BBRI untuk 2026

Di satu sisi, para Bitcoin maximalist menilai perubahan protokol harus dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak fondasi jaringan.

Di sisi lain, kalangan modal ventura (venture capital/VC) menilai ancaman komputer kuantum sudah semakin dekat dan perlu diantisipasi segera.

Bitcoin maximalist Pierre Rochard menyatakan solusi ketahanan kuantum sebenarnya tidak terlalu mahal dan bisa didanai oleh lembaga nirlaba maupun VC.

Namun, ia menilai biaya untuk menyerang Bitcoin menggunakan komputer kuantum akan sangat besar hingga pemerintah pun harus ikut menanggungnya.

Sementara itu, CEO JAN3 sekaligus investor Bitcoin, Samson Mow, juga meragukan kemampuan komputer kuantum saat ini untuk membobol sistem keamanan Bitcoin.

Menurutnya, komputer kuantum bahkan belum mampu memfaktorkan angka yang sangat kecil tanpa penyesuaian algoritma secara ekstrem.

Baca Juga: Tinggal 5 Hari Perdagangan, Pergerakan IHSG Bakal Terbatas di Sisa 2025

Meski demikian, sejumlah investor institusional memperingatkan bahwa ancaman atau persepsi ancaman komputer kuantum dapat berdampak pada harga Bitcoin. Pendiri perusahaan investasi aset digital Capriole, Charles Edwards, bahkan memprediksi harga Bitcoin berpotensi turun di bawah US$50.000 jika protokolnya belum siap menghadapi era kuantum pada 2028.

Edwards mendorong operator node Bitcoin untuk mengadopsi Bitcoin Improvement Proposal (BIP) 360, yang memperkenalkan skema tanda tangan digital yang lebih siap menghadapi ancaman komputer kuantum.

Dengan perdebatan yang terus berkembang, komunitas Bitcoin kini dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas protokol yang ada dan mempersiapkan diri menghadapi risiko teknologi masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×