Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP) membentur batas Auto Rejection Atas (ARA) pada hari pertamanya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak awal perdagangan, saham PDPP melompat 35% ke harga Rp 270 dan bertahan hingga penutupan pasar, Rabu (9/11).
Adapun PDPP mematok harga Rp 200 per saham saat Initial Public Offering (IPO). Lewat aksi korporasi ini, PDPP meraup dana segar sebesar Rp 100 miliar, setelah melepas 20% saham ke publik atau sebanyak 500.000.000 saham.
Antusiasme publik menyambut listing PDPP terlihat dari kelebihan permintaan (oversubscribed) 121,78 kali sejak penawaran pertama. PDPP juga meraih komitmen dari investor strategis yakni, Sugianto Kusuma.
Sayangnya, sejauh ini manajemen PDPP belum membeberkan peran Sugianto di perusahaan dan rencana strategis ke depan dengan kehadiran pendiri Agung Sedayu Group tersebut.
Baca Juga: Harga Saham Primadaya Plastisindo (PDPP) Melompat 35% Pasca IPO
Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora melihat kehadiran investor strategis menguatkan keyakinan investor terhadap prospek kinerja PDPP. Selain itu, PDPP memiliki klien-klien besar yang bisa menjaga kestabilan pertumbuhan bisnis ke depan.
"PDPP mempunyai prospek bagus dengan klien-klien besarnya. IPO ini membuat perusahaan bisa lebih melakukan ekspansi bisnis," kata Andhika kepada Kontan.co.id, Rabu (9/11).
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian punya pandangan serupa. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi domestik, sektor produksi kemasan dan plastik punya kinerja yang apik, terdongkrak oleh meningkatnya kebutuhan.
"PDPP masih menyasar segmen pasar dalam negeri, sehingga untuk tahun depan yang diperkirakan akan ada perlambatan ekonomi global, PDPP masih mampu mempertahankan kinerjanya," ujar Fajar.
Baca Juga: Dapat Investor Strategis, PDPP Optimistis IPO Bakal Laris
Sebagai informasi, PDPP merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi jenis kemasan plastik dan tisu steril. Mitra dagang PDPP mencakup merk terkenal seperti AQUA, VIT, Indofood, Lasallefood, Sinde, Pristine, dan Orang Tua.
Rencana Bisnis Pasca IPO
Direktur Utama Primadaya Plastisindo Kennie Angesty mengungkapkan bahwa IPO ini merupakan momentum penting bagi PDPP yang telah bertransformasi dari bisnis keluarga menjadi perusahaan publik.
“Sejumlah agenda akan kami gencarkan seperti membuka cabang di setiap pulau di Indonesia. Pada dasarnya kami ingin membantu memenuhi kebutuhan kemasan pasar seefektif mungkin, termasuk para UMKM,” ujar Kennie dalam keterangan resmi yang disiarkan Rabu (9/11).
Dari dana Rp 100 miliar yang didapat lewat IPO, sekitar 67% akan dipakai untuk ekspansi pembelian mesin-mesin dan meningkatkan kapasitas produksi, serta menambah varian produk yang akan dipasarkan PDPP.
Sisanya sekitar 33% akan dipakai sebagai modal kerja, antara lain pembelian raw material HDPE, PET, Polypropylene, dan operasional perusahaan. Dalam keterangan sebelumnya, Kennie menyebut ada sejumlah strategi yang akan digelar PDPP untuk mencuil peluang pertumbuhan.
Baca Juga: Pendiri Agung Sedayu Group jadi Investor Strategis Primadaya Plastisindo (PDPP)
Di antaranya dengan memperluas pangsa pasar produk free market melalui e-commerce dan distributor, menambah mitra dagang melalui sektor Horeka, diversifikasi produk dan market, serta membuka cabang di kota besar lain di Indonesia.
"Lokasi sangat penting untuk menekan waktu dan biaya pengiriman. Dengan perluasan geografis, strategi diversifikasi produk lokasi produksi, kemampuan Perseroan untuk menyerap kebutuhan plastik akan cepat bertumbuh di daerah-daerah yang akan dikembangkan,” ujar Kennie.
Sejak berdiri pada tahun 2005, PDPP memulai kegiatan usaha di Cileungsi - Bogor, dengan memproduksi beberapa jenis kemasan plastik dan tissue steril. Saat ini PDPP memiliki lima pabrik yang berlokasi di Tangerang, Binjai, Sukabumi, Lampung dan Cileungsi.
Merujuk prospektus, pendapatan bersih PDPP konsisten mengalami pertumbuhan dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2019, pendapatan PDPP tercatat sebesar Rp 199,08 miliar, lalu melesat jadi Rp 241,18 miliar pada tahun 2020.
Sedangkan pada tahun 2021, PDPP meraup pendapatan bersih sebesar Rp 318,99 miliar. Dari sisi perolehan laba, PDPP meraih laba bersih Rp 9,33 miliar pada tahun 2019, lalu naik menjadi Rp 12,40 miliar setahun berselang.
Baca Juga: Ada 11 Perusahaan Mengantre IPO, Cermati Sektor dan Calon Emiten Berikut ini
Pada tahun 2021 PDPP meraih laba bersih Rp 12,08 miliar atau terjadi koreksi tipis 2,58% secara tahunan. Namun, laba bersih PDPP mampu tumbuh pesat hingga periode Mei 2022.
Dalam periode lima bulan itu, laba bersih periode berjalan PDPP meroket 113,95% dari posisi Rp 5,59 miliar per Mei 2021 menjadi Rp 11,96 miliar pada periode Mei 2022.
Dari sisi pendapatan, PDPP mengantongi Rp 144,71 miliar dalam periode lima bulan pertama 2022. Meningkat 7.7% dibandingkan posisi Mei 2021 senilai Rp 134,36 miliar.
Rekomendasi Saham
Dengan lonjakan harga 35% dari awal hingga penutupan pasar, Fajar melihat adanya potensi koreksi sementara pada saham PDPP. Investor yang sudah punya bisa mempertimbangkan untuk hold.
Baca Juga: Aksi Pendiri Pesantren Al Ihya Subang di BEI, Setelah IPPE Kini Menggiring IPO ZATA
Sedangkan bagi pelaku pasar yang ingin mengoleksi, disarankan untuk wait and see terlebih dulu. "Perlu wait and see untuk entry point, karena kemungkinkan volatilitasnya akan sangat tinggi," ujar Fajar.
Sementara itu, Andhika mengingatkan bahwa saham yang sudah naik tinggi saat IPO akan rawan terjadi aksi ambil untung. "Para investor perlu mewaspadai adanya profit taking, jika harga saham sudah naik terlampau tinggi," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













