CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menimbang prospek rights issue di tengah fluktuasi pasar


Selasa, 15 Oktober 2019 / 20:22 WIB
Menimbang prospek rights issue di tengah fluktuasi pasar
ILUSTRASI. Ilustrasi IHSG.

Reporter: Irene Sugiharti | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah kondisi pasar yang saat ini fluktuatif, beberapa emiten memilih untuk menerbitkan saham baru atau rights issue. 

Head of Research Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe sebut saat ini opsi rights issue menjadi pilihan pendanaan bagi emiten di tengah keadaan investor maupun perbankan yang berhati-hati pasca kasus gagal bayar beberapa emiten.

"Sebenarnya, pendanaan itu bisa dari perbankan atau obligasi tapi sejak ada kasus Duniatex yang gagal bayar, perbankan mulai hati hati menjaga pemberian kredit mereka. Begitupula dengan obligasi, investor akan sangat berhati-hati. Dulu sudah pilih pilih, sekarang lebih pilih pilih karena Duniatex," ujar Kiswoyo.

Kiswoyo menambahkan, rights issue di tengah kondisi pasar yang fluktuatif dipilih karena instrumen ini menjadi instrumen pendanaan yang paling murah ketimbang instrumen lainnya. 

Maksudnya, dengan melakukan rights issue perusahaan tidak perlu melakukan pembayaran bunga yang otomatis akan membuat beban tanggungan perusahaan lebih murah.

Baca Juga: Gelar Rights Issue , Trisula International (TRIS) Kantongi Restu Pemegang Saham

Selain dipengaruhi oleh kekhawatiran akibat Duniatex, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee sebut faktor perlambatan ekonomi global juga menjadi sentimen yang membuat emiten memilih melakukan rights issue. 

Pasalnya dengan adanya sentimen perlambatan ekonomi global membuat beberapa perusahaan Indonesia terindikasi akan gagal melakukan pembayaran utang.

Dalam melakukan rights issue Hans bilang, standby buyer jadi salah satu faktor penentu berhasilnya sebuah rights issue.

"Sangat penting karena kalau tidak laku yang jadi standby buyer-nya yang beli. Keberhasilan rights issue salah satunya dipengaruhi oleh adanya standby buyer," ujar Hans.

Analis Bina Artha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menambahkan, terdapat beberapa faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan rights issue.

"Tergantung harga rights issue-nya, jika lebih rendah dibandingkan dengan harga sahamnya maka harga saham tersebut berpotensi menurun. Berikutnya ialah terkait dari tujuan dari rights issue tersebut. Jika untuk ekspansi bisnis itu akan memberikan efek positif dalam meningkatkan kinerja fundamental emiten ke depan. Berikutnya yang terpenting ialah seberapa likuid pergerakan harga saham tersebut. Para investor lebih menghendaki harga saham yang likuid dan atraktif," tutur Nafan.

Beberdapa faktor yang disebut Nafan diatas, menurut Hans dapat mengoptimalisasi penyerapan saham oleh standby buyer.

Baca Juga: Bayar Utang dan Kumpulkan Modal Kerja, APLN Siapkan Rencana Rights Issue

Kiswoyo juga menyatakan bahwa faktor jenis bisnis emiten juga menjadi faktor penentu mengapa emiten memilih pendanaan dari rights issue. Mengambil contoh TGRA, Kiswoyo menilai penyebab TGRA melakukan rights issue juga menyangkut kemudahan akses pendanaan oleh perbankan. Pasalnya setiap emiten memiliki metode pendanaan yang paling cocok dan efektif sesuai dengan bisnis emiten tersebut. Dalam contoh kasus TGRA, Kiswoyo menilai rights issue sudah menjadi pilihan pendanaan terbaik bagi perusahaan.

Secara analisa teknikal sendiri Nafan menilai pergerakan harga saham TGRA sendiri masih kurang likuid namun berpotensi menuju ke level Rp 950 sehingga masih direkomendasikan hold oleh Nafan. Begitu pula dengan pergerakan harga saham PSSI yang juga direkomendasikan hold ke target harga Rp 199 karena menurut Nafan pergerakan harga sahamnya sudah likuid.




TERBARU

Close [X]
×