kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45845,50   -13,12   -1.53%
  • EMAS1.347.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menilik Kembali Kinerja Emiten Properti Dengan Aset Pendapatan Berulang


Senin, 20 Mei 2024 / 04:00 WIB
Menilik Kembali Kinerja Emiten Properti Dengan Aset Pendapatan Berulang
ILUSTRASI. Kinerja emiten properti di tahun 2024 masih diselimuti sejumlah tantangan termasuk suku bunga tinggi.


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten properti di tahun 2024 masih diselimuti sejumlah tantangan. Salah satu pemberat langkah mereka adalah masih tingginya suku bunga.

Asal tahu saja, suku bunga Bank Indonesia (BI) sekarang ada di level 6,25%. Meskipun begitu, aset recurring income alias pendapatan berulang diperkirakan masih akan menopang kinerja para emiten properti.

Kinerja menilik laporan keuangan masing-masing emiten di kuartal I 2024, kinerjanya pun masih beragam.

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 31,25% secara tahunan alias year on year (YoY) menjadi Rp 3,77 triliun di kuartal I-2024. BSDE pun mengantongi laba bersih Rp 1,44 triliun di kuartal I 2024, naik 62,55% YoY.

BSDE mencatatkan sumbangan pendapatan dari segmen sewa sebesar Rp 234,66 miliar atau setara 6,22% dari pendapatan usaha Bumi Serpong Damai di kuartal I 2024. Segmen pengelola gedung juga menyumbang Rp 92 miliar atau setara 2,44%.

Baca Juga: Menilik Kinerja Adhi Commuter Properti (ADCP) pada Kuartal I-2024

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 1,53 triliun pada periode kuartal I-2024, naik 11% YoY. Sayangnya, PWON membukukan laba bersih Rp 330,91 miliar, turun dari Rp 595,38 miliar di kuartal I 2023.

Segmen pengusahaan pusat perkantoran, perbelanjaan dan apartemen servis berkontribusi Rp 941,15 miliar atau 61,49% ke pendapatan PWON di kuartal I 2024. Segmen perhotelan juga menyumbang 272,68 miliar.

“Aset pendapatan berulang berkontribusi 78% ke total pendapatan PWON di kuartal I 2024. Rinciannya, sewa ritel naik 11% YoY, hotel dan servis apartemen naik 12% YoY, dan sewa perkantoran naik 5% YoY,” kata manajemen dalam keterbukaan informasi di laman resmi.

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan pendapatan neto Rp 2,13 triliun di kuartal I 2024, naik 42,30% YoY dari sebelumnya Rp 1,49 triliun. Summarecon Agung mengantongi laba bersih sebesar Rp 441,39 miliar di kuartal I 2024, naik 62,40% YoY.

Segmen properti investasi menyumbang Rp 479,83 miliar alias 22,48% ke pendapatan SMRA di kuartal I 2024. “Di kuartal I 2024 ini, unit usaha Investment Property mengalami kenaikan sebesar Rp 85 miliar atau 18% YoY,” ujar Corporate Secretary Summarecon Agung Jemmy Kusnadi kepada Kontan, beberapa waktu lalu.

Sebagai perbandingan, segmen properti investasi menyumbang pendapatan SMRA sebesar Rp 1,73 triliun pada tahun 2023. Ini setara 26% dari total pendapatan SMRA di tahun 2023, yaitu Rp 6,6 triliun.

Dengan cukup tinggi raihan dan potensi kinerja segmen properti investasi, SMRA dikabarkan akan membawa anak usaha yang mengelola unit usaha ini untuk melakukan initial public offering (IPO). Namun, saat dihubungi Kontan, pihak SMRA masih belum memberikan jawaban apa pun terkait hal ini.

Baca Juga: Pakuwon Jati (PWON) Bukukan Pendapatan Rp 1,53 Triliun Per Kuartal I-2024

Analis Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda menyebutkan, IPO aset investasi properti kinerja konsolidasi SMRA belum dapat dipastikan. Tetapi secara umum IPO ini dapat mengurangi proporsi pendapatan SMRA dari properti investasi.

“Sebab, pendapatan dari bisnis properti investasi akan dikonsolidasikan secara terpisah dalam laporan keuangan property investment. Namun, dana hasil IPO dapat digunakan SMRA untuk modal kerja, melunasi utang, hingga membiayai ekspansi bisnis,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (17/5).

Vicky melihat, emiten properti dengan aset recurring income umumnya memiliki pendapatan lebih stabil. Di tengah era suku bunga tinggi ini, kinerja emiten properti dengan recurring income lebih prospektif di tahun 2024. Sebab, kinerja aset tersebut jauh lebih stabil dibandingkan dengan kinerja aset hunian.

“Tetapi, jika sentimen suku bunga dan ketidakpastian geopolitik sudah mulai stabil, maka aset hunian yang akan unggul,” ungkapnya.

Vicky merekomendasikan trading buy untuk SMRA dan PWON dengan target harga masing-masing Rp 595 per saham dan Rp 418 per saham.

Baca Juga: Emiten Properti Didongkrak Insentif Pajak

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama melihat, kinerja emiten di atas memang terbantu dari pendapatan mal dan apartemen.

“Ini yang membuat mereka masih bisa mencatatkan pendapatan yang baik, karena ada kontribusi positif dari recurring income di kuartal I 2024,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (19/5).

Terkait prospek kinerjanya, aset-aset yang disewakan tersebut harus memiliki tingkat okupansi tinggi agar bisa berkontribusi positif kepada para emiten di era suku bunga tinggi.

Namun, Nafan melihat, aset hunian masih akan unggul di tahun ini. Sebab, ada sentimen insentif PPN DTP dan potensi pelonggaran kebijakan moneter dari BI terkait penurunan suku bunga.

“Tren suku bunga tinggi ini sudah mulai berakhir,” paparnya.

Nafan merekomendasikan accumulative buy untuk BSDE dan SMRA dengan target harga masing-masing Rp 950–Rp 1.000 per saham dan Rp 565–Rp 600 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×