kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

BI Kerek Suku Bunga, Begini Dampaknya ke Emiten Properti


Kamis, 25 April 2024 / 20:09 WIB
BI Kerek Suku Bunga, Begini Dampaknya ke Emiten Properti
ILUSTRASI. analis memberikan rekomendasi saham untuk emiten properti di tengah keputusan BI kerek suku bunga


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten properti di tahun 2024 diprediksi masih berat setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga. Asal tahu saja, suku bunga BI dinaikkan 25 basis poin (bps) menjadi 6,25%.

Direktur Ciputra Development (CTRA) Harun Hajadi mengatakan, kenaikan suku bunga BI akan berdampak pada penjualan CTRA, khususnya untuk aset hunian yang sebagian besar dibayarkan via kredit pemilikan rumah (KPR).

Di sisi lain, Corporate Secretary Summarecon Agung (SMRA) Jemmy Kusnadi mengatakan, kenaikan suku bunga BI tidak akan berdampak signifikan terhadap penjualan perusahaan.

Sebagai catatan, sebesar 55% marketing sales SMRA di kuartal I 2024 dibayarkan dari kredit pemilikan rumah (KPR). Lalu, pembayaran menggunakan cash sebesar 25% dan development installment sebesar 20%.

“Begitu juga terhadap penjualan dengan menggunakan insentif PPN DTP (tidak akan terdampak dari kenaikan suku bunga BI),” ujarnya kepada Kontan, Kamis (25/4).

Baca Juga: Ciputra Development (CTRA) Nilai Positif Insentif PPN DTP pada Penjualan Properti

Melansir laman Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja IDX Sector Properties & Real Estate sudah turun sebesar 13,25% sejak awal tahun alias year to date (YtD).

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda mengatakan, penurunan kinerja IDX Sector Properties & Real Estate disebabkan suku bunga yang sudah tinggi dari The Fed dan BI. 

Akibatnya, kenaikan suku bunga BI ke 6,25% pun menjadi sentimen negatif untuk sektor properti di tahun 2024.

Prospek sektor properti di era suku bunga yang tinggi menjadi kurang baik, bahkan dapat menurun. Sebab, kondisi ini dapat menekan keinginan masyarakat untuk membeli hunian baru.

“Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat memberikan dampak negatif untuk emiten properti yang memiliki utang dalam dolar Amerika Serikat (AS),” ujarnya kepada Kontan, Kamis (25/4). 

Alhasil, minat masyarakat untuk membeli properti dapat menurun karena KPR berpotensi besar ikut naik. Hal ini pun menyebabkan insentif PPN DTP tidak akan begitu berpengaruh dalam mengerek kinerja emiten di tahun 2024.

Sejauh ini, aset properti yang paling terdampak di era suku bunga tinggi adalah penjualan rumah. Sementara, di era suku bunga tinggi ini, aset yang dapat menopang kinerja emiten properti adalah ruko dan mall alias pendapatan berulang. 

 

“Masih ada peluang bagi emiten properti untuk bertumbuh positif di tahun ini. Namun, harus menunggu kebijakan The Fed untuk menurunkan suku bunga serta suku bunga BI yang akan mengikutinya,” paparnya.

Vicky pun merekomendasikan trading buy untuk BSDE dan CTRA dengan target harga masing-masing Rp 530 per saham dan Rp 1.210 per saham. PWON juga direkomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp 420 per saham.

Research Analyst Phintraco Sekuritas Nurwachidah melihat, era suku bunga tinggi dan lemahnya rupiah sudah menjadi sentimen buruk bagi emiten properti sejak tahun 2023.

Sepanjang tahun 2023, suku bunga acuan BI dinaikkan satu kali sebanyak 25 basis poin pada bulan Oktober 2023 dari 5,75% menjadi 6.00% untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang hampir mencapai Rp 16.000 per dolar AS pada saat itu. 

“Walau demikian di tahun 2023, kinerja emiten properti masih relatif positif. Ini ditunjukkan dengan pencapaian target marketing sales dari para emiten,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (25/4).

Meskipun suku bunga KPR sudah tinggi, minat beli properti masih bisa terjaga seiring dengan stabilitas politik di Indonesia pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Pemilu 2024.

Adanya insentif dari pemerintah berupa pembebasan PPN untuk properti dengan harga di bawah Rp 2 miliar juga akan menjadi sentimen positif untuk kinerja para emiten properti. 

Beberapa emiten properti juga menargetkan angka marketing sales di tahun 2024 yang relatif sama dengan target marketing sales pada tahun 2023, seperti CTRA dan SMRA. 

Namun, di saat yang sama, BSDE dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) meningkatkan target perolehan marketing sales di tahun ini. 

Baca Juga: Simak Strategi Emiten Properti di Tengah Pelemahan Rupiah

Asal tahu saja,BSDE mengincar marketing sales Rp 9,5 triliun di tahun 2024. PANI menargetkan marketing sales Rp 5,5 triliun di tahun ini. 

Hal lain yang dapat menopang kinerja sektor properti di tahun 2024 adalah potensi penurunan suku bunga acuan yang akan dipimpin oleh The Fed. 

Penurunan suku bunga diperkirakan akan terjadi di kuartal III 2024. Apabila stabilitas nilai tukar rupiah sudah terjaga, BI pun dapat ikut menurunkan suku bunga acuannya.

“Terlebih, kondisi makroekonomi Indonesia relatif solid yang masih diikuti pertumbuhan loan growth di bulan Maret 2024 sebesar 12,4% secara tahunan, serta masih sejalan dengan target pertumbuhan BI,” paparnnya.

Nurwachidah pun merekomendasikan beli untuk SMRA, BSDE, CTRA, dan PWON dengan target harga masing-masing Rp 630 per saham, Rp 1.160 per saham, Rp 1.445 per saham, dan Rp 464 per saham.

“Berdasarkan perhitungan relative valuation dengan pendekatan price earning ratio (PER) dan EV/EBITDA, kami masih melihat potensial upside untuk sektor properti, ungkapnya.

Selanjutnya: BRI Danareksa Sekuritas Gaet SMF Luncurkan EBA-SP Ritel, Tawarkan Return Sebesar 7%

Menarik Dibaca: Luncurkan Fitur Baru, Begini Cara Login Tanpa Password di WhatsApp untuk iOS

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×