Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) mengawali tahun 2026 diwarnai tren penguatan. Kenaikannya kontras dengan kondisi pasar saham domestik yang justru sedang tertekan.
Pada perdagangan Kamis (12/2/2026), saham TUGU ditutup nail 0,37% ke level Rp 1.345, sehingga dalam sepekan tercatat sudah menguat sebesar 7,6% dan speanjang tahun berjalan sudah meningkat 15,45%.
Equity Research Analyst Trimegah Sekuritas, Kharel Devin, menyebut ada tiga katalis utama penopang kinerja saham TUGU, yakni kinerja keuangan yang solid, valuasi yang murah, dan permodalan yang kuat.
Ia menilai saham TUGU masih sangat terdiskon. Saat IHSG diperdagangkan di level 2,6x price to book value (PBV) dan sektor keuangan di 1,6x PBV, TUGU hanya 0,4x PBV. “Gap valuasi yang lebar ini membuka ruang re-rating dan membuat saham TUGU semakin menarik bagi investor,” kata Karel, Kamsi (12/2/2026).
Baca Juga: Sejumlah Emiten Nikel Raup Kinerja Keuangan Positif, Cek Rekomendasinya
Selain itu, kenaikan signifikan pasar saham domestik yang membawa valuasi ke zona premium mendorong investor beralih ke saham dengan valuasi lebih rasional sebagai antisipasi koreksi. Kondisi ini turut mendongkrak likuiditas TUGU. Rata-rata nilai transaksi harian saham TUGU naik dari Rp3,5 miliar pada 2025 menjadi Rp8,5 miliar sepanjang 2026, atau melonjak lebih dari dua kali lipat.
Dari sisi fundamental, TUGU juga ditopang permodalan yang kuat. Ekuitas induk tercatat Rp6,2 triliun dan ekuitas konsolidasi hampir Rp11 triliun, dengan rasio solvabilitas (RBC) induk mencapai 404% per Desember 2025.
Dengan modal yang tebal, TUGU dinilai siap menghadapi implementasi aturan modal minimum asuransi tahun ini, bahkan memiliki ruang lebih besar untuk ekspansi saat perusahaan lain masih fokus menambah modal.
Berdasarkan POJK No. 23/2023, perusahaan asuransi umum dan jiwa wajib memiliki ekuitas minimum Rp250 miliar pada 2026. Namun, masih banyak perusahaan yang belum memenuhi ketentuan tersebut.
Baca Juga: Kinerja Saham Big Banks Kamis (12/2): BMRI dan BBNI Menguat, BBCA dan BBRI Melemah
Di tengah aturan itu, TUGU diperkirakan tetap mencatatkan kinerja solid pada 2025, meski telah menerapkan standar akuntansi baru PSAK 117 yang mengharuskan restatement laporan 2024. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian non-audit per September 2025, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp595 miliar setelah penerapan PSAK 117.
Kharel Devin menjelaskan, penurunan laba secara tahunan lebih dipengaruhi dampak standar akuntansi baru dan restatement. Dari sisi fundamental, kemampuan TUGU membayar dividen dinilai tetap atraktif, baik secara nominal maupun yield.
Selama sembilan bulan 2025, laba sudah mencapai Rp595 miliar atau sekitar 85% dari realisasi laba penuh 2024. Laba 2025 diperkirakan bisa menembus Rp700 miliar. “Dengan asumsi payout ratio 40%, potensi dividend yield saat ini sekitar 6,3%. Ini masih menarik meski harga saham telah menguat.” pungkas Kharel.
Selanjutnya: Pengacara Tuding Market Maker Mainkan Saham untuk Kepentingan Pribadi
Menarik Dibaca: Anti Pucat! Ini 4 Warna Lipstik yang Cocok untuk Kulit Kuning Langsat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













