kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45736,73   34,31   4.88%
  • EMAS931.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Meneropong prospek emiten poultry CPIN, JPFA dan MAIN di tahun 2020


Senin, 30 Desember 2019 / 18:05 WIB
Meneropong prospek emiten poultry CPIN, JPFA dan MAIN di tahun 2020
ILUSTRASI. Harga Ayam Merangkak Naik: Peternak ayam di Gunung Sindur, Bogor, Jumat (11/10).

Reporter: Irene Sugiharti | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sempat tersendat di 2019, sektor pakan ternak alias poultry bakal membaik di tahun depan. Para analis sepakat, kenaikan konsumsi ayam dan telur serta kebijakan proaktif pemerintah dapat mengangkat kinerja sektor ini di tahun depan. 

Seperti diketahui, tahun ini nasib perusahaan di sektor ini kurang menggembirakan. Penyebabnya, kelebihan pasokan ayam jenis broiler maupun day old chicken (DOC). 

Selain itu, permintaan masyarakat terhadap ayam pada semester pertama pun cenderung melambat. Alhasil, kinerja perusahaan poultry tahun ini terlihat tertekan.

Baca Juga: Harga saham turun, begini valuasi saham emiten poultry, Kamis (19/12

Namun, Analis Kresna Sekuritas Timothy Gracianov memperkirakan, tahun depan kinerja emiten saham di sektor ini bangkit karena harga jagung stabil. Jagung merupakan komponen utama dalam produksi pakan ternak.

Selain itu, pemerintah sudah menerapkan beberapa kebijakan preventif untuk menjaga stabilitas harga ayam dan DOC.

"Untuk segmen penjualan ayam broiler memang masih perlu diawasi secara ketat karena masih adanya populasi yang melebihi dari tingkat konsumsi. Sekarang pemerintah sepertinya lebih terbuka dengan data populasi ayam dan penyesuaian yang dilakukan di muka," kata Timothy.

Baca Juga: Terpopuler: Saham yang berpeluang window dressing, nilai ekspor JPFA tembus Rp 500 M

Analis Reliance Sekuritas Anisa Septiwijaya menambahkan, program culling atau pemusnahan ayam broiler yang dilakukan pemerintah sepanjang semester kedua bisa mulai terlihat dampaknya di kuartal I tahun depan. 

"Program culling yang dilakukan pemerintah sejak pertengahan tahun sudah mulai terasa di Januari-Februari 2020. Lagipula saat ini harga ayam pun sudah mulai stabil," kata dia.

Revisi aturan

Di sisi lain, keinginan pemerintah melakukan revisi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 18/2008 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan diproyeksikan semakin menggairahkan persaingan usaha di industri poultry dalam negeri. 

Analis NH Korindo Sekuritas Meilki Darmawan mengatakan, jika aturan tersebut direvisi, persaingan usaha antara peternak mandiri dengan perusahaan integrator tak lagi tumpang tindih.

Baca Juga: Harga saham naik, ini PER, EPS dan PBV saham emiten poultry dan ayam, Senin (2/12)

Alhasil, harapannya, tidak ada lagi peternak mandiri yang merugi dan gulung tikar. "Selain itu, pemerintah bisa mengawasi produksi DOC agar permasalahan oversupply tak berlanjut di tahun-tahun mendatang," tutur dia.

Selain itu, Meilki memprediksikan bahwa konsumsi ayam dan telur ras dapat meningkat di tahun depan. Meilki bilang harga ayam ras dapat naik tahun 2020. Sedangkan konsumsi telur ayam ras juga cenderung terus meningkat setiap tahun.

Sementara, program culling yang sudah dilakukan pemerintah juga dapat menstabilkan harga live bird (ayam hidup) mulai kuartal kedua 2020. 

"Dan tentu saja hal tersebut akan menguntungkan bagi emiten seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN)," tambah Meilki.

Baca Juga: Natal dan Tahun Baru memoles kinerja Japfa Comfeed (JPFA) di akhir tahun

Untuk tahun depan, Meilki maupun Anisa sama-sama masih menjagokan JPFA. Meilki menilai, JPFA memiliki diversifikasi bisnis yang kuat dan memiliki langkah ekspansi konkret di 2019.

Karena itu, Meilki masih merekomendasikan beli saham JPFA dengan target harga Rp 1.940 per saham. Menurut hitungan dia, JPFA berpotensi memperoleh pendapatan sebesar Rp 40,6 triliun di tahun depan.




TERBARU

Close [X]
×