kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Mencermati prospek saham perbankan pasca BI pertahankan suku bunga 5%


Kamis, 23 Januari 2020 / 20:37 WIB
Mencermati prospek saham perbankan pasca BI pertahankan suku bunga 5%
ILUSTRASI. Pekerja melintas di dekat layar pergerakan saham di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jum'at (27/12/2019).

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Noverius Laoli

Di sisi lain, Presiden Direktur CSA Institute, Aria Santoso menilai, dengan dipertahankan-nya suku bunga acuan BI di level 5%, membuat sektor keuangan khususnya perbankan mendapat alasan untuk tidak menurunkan lagi bunga pinjaman dan menjaga net interest margin (NIM) tetap tinggi.

Namun, ia memperkirakan dalam waktu dekat ini masih ada ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuannya. Aria menilai saham bank BUKU IV seperti BBRI, BBCA, BMRI masih menarik untuk dikoleksi.

Baca Juga: Perbankan dukung rencana LPS untuk memperluas penjaminan

Sementara itu, Sukarno menilai seharusnya investor dapat masuk ke saham perbankan dengan memanfaatkan aktivitas widow dressings yang terjadi pada Desember tahun lalu.

Saat ini, beberapa saham perbankan yang masuk kategori blue chips sudah mengalami kenaikan harga yang lumayan tinggi. Sehingga, untuk saham-saham yang dinilai masih ‘ketinggalan’ dari segi pergerakan teknikalnya seperti BBNI dan BMRI bisa mulai dikoleksi investor saat ini.

Sedangkan untuk saham BBTN dan BDMN, Sukarno merekomendasikan investor bisa menggunakan strategi buy on weakness (BOW). “Untuk saham-saham yang sudah menguat signifikan bisa ditunggu koreksi dahulu karena ada peluang dapat di harga bawah (harga lebih rendah),” sambung Sukarno.

Baca Juga: Rupiah terus menguat terhadap dolar AS, ini penjelasan Gubernur BI

Sedangkan Catherina menilai investor sudah bisa membeli (buy) saham BMRI dengan target harga Rp 8.500 dan hold saham BBRI dengan target harga Rp 4.900 per saham.




TERBARU
Terpopuler

Close [X]
×