kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Menanti hasil pertemuan OPEC+, harga minyak kembali menguat


Rabu, 04 Maret 2020 / 15:23 WIB
ILUSTRASI. Harga minyak mentah kembali menguat


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

Pemotongan tambahan 1 juta barel per hari yang diharapkan oleh OPEC + akan masih jauh dari yang baru meningkat 2,1 juta barel per hari yang diperkirakan akibat kehilangan permintaan global pada semester pertama saja, analis Goldman Sachs menulis dalam sebuah catatan penelitian.

Persediaan minyak mentah AS naik dalam minggu terakhir, sementara bensin dan stok sulingan turun. Hal tersebut terlihat dari data kelompok industri American Petroleum Institute menunjukkan pada Selasa (3/3).

Persediaan minyak mentah naik 1,7 juta barel dalam minggu ini menjadi 446,6 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Februari. Angka ini juga lebih rendah ketimbang ekspektasi analis yang sebesar 2,6 juta barel.

Baca Juga: Jelang sore, harga emas spot turun menjadi US$ 1.635,57 per ons troi

Tapi tren bearish minyak masih terlihat untuk tahun ini. Buktinya Goldman kembali memangkas perkiraan harga Brent menjadi US$ 45 per barel pada bulan April, sementara untuk akhir tahun, harga minyak jenis Brent diharapkan secara bertahap pulih ke US$ 60 per barel.

Setali tiga uang, Morgan Stanley pada Selasa (3/3) juga memangkas prediksi harga Brent untuk kuartal kedua 2020 menjadi US$ 55 per barel dan prospek WTI menjadi US$ 50. 

Di tempat lain, Federal Reserve memangkas suku bunga pada hari Selasa (3/3) dalam upaya untuk melindungi ekonomi terbesar di dunia dari dampak virus corona.

"Pemotongan tingkat darurat The Fed menggarisbawahi kerapuhan fundamental ekonomi, dan ini mendesak OPEC + untuk mempercepat penurunan produksi lebih dalam untuk menopang harga energi," kata Margaret Yang, analis pasar di CMC Markets.

Yang mengatakan dari sudut pandang analisis teknis, Brent telah menemukan dukungan kuat di sekitar US$ 50-US$ 52 per barel, sementara resistensi terdekat dapat ditemukan di US$ 54,70 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×