kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 -1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menakar Prospek Industri Nikel dan Tembaga di Tengah Krisis Properti China


Selasa, 29 Agustus 2023 / 14:14 WIB
Menakar Prospek Industri Nikel dan Tembaga di Tengah Krisis Properti China
ILUSTRASI. Seorang pengunjung berfoto di depan Castle Hotel di pulau buatan Ocean Flower Island, resor terintegrasi yang dikembangkan oleh China Evergrande Group, di Danzhou, provinsi Hainan, China, 7 Januari 2022.?Menakar Prospek Industri Nikel dan Tembaga di Tengah Krisis Properti China.


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Prospek komoditas logam dasar seperti nikel dan tembaga bisa terdampak krisis yang melanda properti di China. Mengingat Negeri Tembok Raksasa merupakan salah satu konsumen nikel terbesar. Di sana, mayoritas nikel untuk bahan baku baja anti karat bangunan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan menilai, krisis properti ini mengakibatkan ekonomi China tahun ini akan bertumbuh lebih lambat dari yang diperkirakan.

Mengingat tingkat inflasi rendah, ia menilai, Tiongkok masih memiliki cukup ruang untuk menurunkan suku bunganya.

Baca Juga: Krisis Properti China Berdampak pada Emiten Logam, Cek Saham Rekomendasi Analis

Menurut Rizkia, prospek industri nikel masih cukup atraktif. "Apalagi mengingat hubungan dagang yang baik antara Indonesia dan China," katanya kepada KONTAN, Senin (28/8).

Sedangkan Analis Indo Premier Sekuritas, Erindra Krisnawan mempertahankan rating netral sektor tambang logam Indonesia. Menurut dia, skenario pemulihan kinerja emiten tambang logam yang mengandalkan pasar China masih belum pasti.

Maka ia condong pada penambang logam dengan eksposur yang kecil terhadap permintaan dari China, seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Ia merekomendasikan beli INCO dengan target harga Rp 8.100.

Indo Premier juga merekomendasi beli ANTM dengan target harga Rp 3.000. Saham PT Harum Energy Tbk (HRUM), ada potensi kenaikan valuasi aset nikelnya, disematkan buy dengan target Rp 2.200 per saham.

Baca Juga: Langkah Strategis MIND ID dalam Mengolah Cadangan Mineral untuk Transisi Energi

Label buy juga untuk PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), target harganya Rp 1,730, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) targetnya Rp 990, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp 3.890.

Sementara Rizkia mempertahankan, rekomendasi buy saham HRUM dengan target harga Rp 2.150. Prospek emiten ini ditopang oleh pengembangannya ke industri nikel.

Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan yang menyematkan rating netral sektor pertambangan logam merekomendasikan buy ANTM dengan target Rp 2.800. Lalu buy MDKA di target Rp 4.000, dan buy saham INCO target harga Rp 7.100.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×