kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45936,49   -8,95   -0.95%
  • EMAS1.027.000 -0,19%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Memilah saham mungil yang likuid di IDX SMC


Senin, 29 Januari 2018 / 07:43 WIB
Memilah saham mungil yang likuid di IDX SMC
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)


Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring rekor IHSG, valuasi saham di BEI, terutama saham berkapitalisasi jumbo, semakin tinggi. Demi menjaga peluang cuan, investor bisa mempertimbangkan saham berkapitalisasi pasar kecil dan menengah.

Pada akhir tahun lalu, Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan kelompok indeks saham IDX Small-Mid Cap (SMC). Kelompok indeks ini meliputi saham berkapitalisasi pasar kecil dan menengah, mulai dari Rp 1 triliun hingga Rp 50 triliun.

IDX SMC dibagi menjadi dua indeks. Pertama, IDX SMC Composite yang terdiri dari 300-an saham. Kedua, IDX SMC Liquid yang meliputi 50 saham pilihan.

Indeks yang terakhir cukup menarik. Ini lantaran anggotanya adalah saham yang terbilang likuid di BEI. Syarat untuk masuk jajaran top 50 ini antara lain mempertimbangkan nilai transaksi, free float dan harga saham. BEI juga mencermati aspek fundamental keuangan, keberlangsungan usaha dan cakupan riset dari para analis efek.

Pembentukan indeks ini memberikan kesempatan bagi investor untuk memelototi pergerakan saham yang memiliki kapitalisasi menengah.

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido Hutabarat menilai, indeks ini cocok bagi para trader. "Saham berkapitalisasi pasar kecil bagus untuk mencari untung dari fluktuasi harga," ungkap dia, pekan lalu.

Memang, saham blue chips dengan kapitalisasi besar selalu menjadi idaman para investor. Namun harganya belakangan ini relatif tinggi, seiring naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Alhasil, para trader urung masuk ke saham blue chips. Sebagai alternatif, saham berkapitalisasi kecil-menengah menjadi incaran. Dus, langkah bursa meluncurkan indeks ini memudahkan trader melacak likuiditas saham kapitalisasi kecil-menengah yang memiliki volatilitas besar.

Membaca sektor

Satu hal lagi yang membuat indeks IDX SMC Liquid ini menarik, yakni adanya perwakilan dari hampir semua sektor di BEI. Di sektor konstruksi, misalnya, ada saham WIKA, WSKT dan PTPP.

Di sektor properti, masuk BSDE dan PWON. Kemudian perwakilan sektor ritel antara lain ACES, ERAA dan MAPI.

Sektor perbankan diisi BBTN, BJBR dan BNLI. Ada pula perwakilan sektor konsumer, tambang, telekomunikasi, rumahsakit, serta media. Maka itu, investor sebaiknya mendekati indeks ini dengan melihat kinerja masing-masing sektor sebelum melirik fundamental emiten.

"Ini indeks yang lengkap, sebanyak 50 saham tersebar di semua sektor, sehingga membuat indeks stabil," ujar Head of LOTS Services Lotus Andalan Sekuritas, Krishna Setiawan.

Mengacu data BEI, IDX SMC Liquid per Jumat (26/1) mencetak pertumbuhan 9,62% year-to-date (ytd). Pencapaian ini melampaui IHSG yang naik 4,8% (ytd).

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji menyatakan, untuk membaca indeks ini dapat melihat sektor emiten yang sedang mekar. Bagi dia, sektor konstruksi berpeluang bagus tahun ini dan tahun depan karena proyek infrastruktur Indonesia semakin kekar.

Di APBN 2018, pemerintah mengalokasikan belanja infrastruktur Rp 410,7 triliun yang akan dipakai untuk membangun berbagai infrastruktur di Indonesia. Misalnya, sepanjang 865 km jalan baru, 25 km jalan tol, 8.695 km jembatan, pembangunan bandar udara di delapan lokasi dan pembangunan jalur kereta api.

"Sektor konstruksi masih ada potensi secara alami menguat," jelas Nafan. Ia menilai saham konstruksi yang menarik diperhatikan dalam indeks IDX SMC Liquid adalah WIKA. Sebab, emiten ini memiliki proyek kereta cepat yang menunggu pencairan dana dari Tiongkok.

Kevin juga melihat potensi besar pada sektor infrastruktur. Ia menjagokan WSKT lantaran memiliki proyek LRT di Palembang dan sejumlah proyek turnkey yang siap memperoleh pembayaran pada tahun ini.

Kevin menambahkan, untuk sektor lain bisa dilirik saham finansial seperti BJBR untuk trading harian. Volatilitas saham ini cukup tinggi.

Sedangkan Krishna menjagokan saham sektor pertambangan lantaran tren harga komoditas yang terus membaik. Ini bisa dilihat dari harga minyak internasional, seperti minyak jenis light sweet yang sudah menguat di atas US$ 60 per barel. Harga minyak Brent juga telah menembus level US$ 70 per barel.

"Harga komoditas membaik sehingga membuat harga saham komoditas terus meningkat," kata Krishna. Ia menjagokan saham MEDC dalam indeks tersebut.

KONTAN menyajikan ulasan singkat empat saham anggota indeks SMC Liquid pilihan analis. Silakan simak Harian KONTAN edisi Senin, 29 Januari 2018 halaman 5.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×