Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju kinerja emiten infrastruktur masih terhambat. Tantangan utama berasal dari pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI).
Hari ini (22/5/2026), rupiah spot melemah 0,28% secara harian ke Rp 17.717 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 0,24% secara harian ke Rp 17.717 per dolar AS.
Sementara, suku bunga dinaikkan 50 basis poin (bps) ke level 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Mei 2026.
Tekanan terhadap emiten infrastruktur ini tercermin dari kinerja IDX Infrastructures (IDXINFRA) yang terjun 31,16% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
Baca Juga: Bidik Pertumbuhan Laba, Begini Strategi Garuda Maintenance Facility (GMFI)
Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 28,74% YTD.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, koreksi IDXINFRA wajar setelah indeks melesat 71,51% di 2025 yang menciptakan basis perbandingan sangat tinggi.
Pemberat utama adalah pergerakan saham PT Indosat Tbk (ISAT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) yang masih negatif sejak awal tahun 2026 dengan bobot besar dalam indeks.
Pelemahan saham BREN lantaran tertekan isu high shareholding concentration (HSC) list MSCI. Sementara, ISAT dan JSMR ditekan kenaikan BI rate yang ikut menaikkan beban utang dan outflow asing.
“Konstruksi BUMN seperti PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT PP Tbk (PTPP) juga masih membebani karena tekanan keuangan dan restrukturisasi yang belum tuntas,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (22/5/2026).
Senior Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas melihat, emiten yang menjadi pemberat IDXINFRA adalah BREN yang amblas 74,85% YTD, CDIA anjlok 55,04% YTD, MORA tepangkas 43,98% YTD, dan EXCL minus 27,73% YTD.
Lalu, TOWR terkoreksi 32,65% YTD, TBIG turun 50,93% YTD, INET turun 51,15% YTD, MTEL turun 28,57% YTD, TLKM turun 16,09% YTD, dan ISAT turun 6,39% YTD.
Baca Juga: FTSE Russell Rilis Pengumuman Penting di Sabtu (23/5), Apa Efeknya ke IHSG?
Secara subsektoral, tekanan terbesar berasal dari subsektor telekomunikasi, menara, dan infrastruktur digital. Alasannya, sektor ini cukup sensitif terhadap kenaikan imbal hasil dan biaya dana mengingat karakter bisnisnya yang padat modal.
“Selain itu, aksi foreign outflow juga menjadi faktor utama karena mayoritas saham big caps IDXINFRA memiliki kepemilikan asing yang besar,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi melihat, pemberat utama itu BREN dan CDIA yang punya bobot 18% terhadap indeks.
“TLKM ikut membebani disebabkan laba tahun 2025 yang turun 20,5% YoY akibat tekanan kompetisi telko,” ujarnya kepada Kontan, Jumat.
Sukarno melihat, selain faktor fundamental, arah aliran dana asing akan sangat menentukan prospek IDXINFRA ke depan.Ini lantaran mayoritas saham di indeks ini sebelumnya mengalami tekanan akibat capital outflow yang cukup besar.
“Jika tekanan global mulai mereda dan arus dana asing kembali masuk ke pasar negara berkembang, maka sektor infrastruktur berpeluang mengalami rerating dan technical rebound mengingat valuasinya sudah terkoreksi cukup dalam,” katanya.
Sukarno pun merekomendasikan beli untuk MTEL, TLKM, dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 705 per saham, TLKM Rp 4.000 per saham, dan Rp 3.850 per saham.
Wafi melihat, subsektor menara telko seperti TOWR dan TBIG, serta jalan tol seperti JSMR cenderung defensif di tahun 2026. Ini lantaran pendapatan mereka berbasis kontrak jangka panjang, tidak terekspos langsung ke volatilitas kurs maupun kebijakan ekspor.
Katalis utama penggerak kinerja emiten infrastruktur di tahun ini berasal dari sentimen rollout 5G, data center, serta spin-off aset fiber milik TLKM.
“BI rate yang naik juga akan menekan emiten dengan leverage tinggi, namun emiten menara dan jalan tol yang memiliki debt to equity ratio (DER) rendah relatif aman,” ujarnya.
Baca Juga: Laba Bersih Naik Triple Digit, LUCK Buka Peluang Tebar Dividen
Wafi pun merekomendasikan beli untuk TLKM, TOWR, dan TBIG dengan target harga masing-masing Rp 3.500 per saham, Rp 730 per saham, dan Rp 1.700 per saham. Sementara, rekomendasi wait and see disematkan untuk CDIA dan BREN.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, tekanan untuk subsektor konstruksi masih sangat berat, terutama terkait dinamika restrukturisasi utang dalam rangka penyehatan arus kas dan progres merger BUMN karya.
Sementara, subsektor telekomunikasi cukup prospektif di tahun 2026. Terutama, untuk TLKM yang cukup defensif.
Salah satu pendorongnya berasal dari permintaan komunikasi dalam rangka mewujudkan konektivitas dan mendukung digitalisasi tanah air. “Ini meskipun suku bunga naik atau bahkan nilai tukar rupiah melemah,” ujarnya kepada Kontan, Jumat.
Nafan pun merekomendasikan accumulative buy untuk TLKM dengan target harga Rp 3.690 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













