kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.788.000   -12.000   -0,43%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Solusi Bangun Indonesia (SMCB) Andalkan Ekspor Untuk Menopang Kinerja


Jumat, 22 Mei 2026 / 19:19 WIB
Solusi Bangun Indonesia (SMCB) Andalkan Ekspor Untuk Menopang Kinerja
ILUSTRASI. PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) berupaya melanjutkan tren positif kinerja keuangannya sepanjang 2026. ? (dok/SBI)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten produsen semen, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) berupaya melanjutkan tren positif kinerja keuangannya sepanjang 2026. Salah satunya dengan mengoptimalkan potensi ekspor semen ke mancanegara.

Sebagaimana diketahui, SMCB mencatat pertumbuhan pendapatan 3,6% year on year (yoy) menjadi Rp 2,56 triliun pada kuartal I-2026. Hasil ini ditopang oleh pertumbuhan volume penjualan semen dan terak sebesar 1,4% yoy menjadi 2,92 juta ton.

EBITDA SMCB juga meningkat 14,3% yoy menjadi Rp 358 miliar yang mencerminkan penguatan kinerja operasional dan efektivitas strategi yang dijalankan oleh anak usaha PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) tersebut.

Hingga akhir kuartal I-2026, laba bersih tahun berjalan SMCB melesat 110,4% yoy menjadi Rp 101 miliar.

Baca Juga: Melihat Ulang Kinerja Emiten Infrastruktur di tengah Sentimen Rupiah dan Suku Bunga

Direktur Utama Solusi Bangun Indonesia Rizky Kresno Edhie Hambali mengatakan, pihaknya menargetkan pertumbuhan pendapatan yang sejalan dengan pertumbuhan pasar semen nasional. Sebagai gambaran, penjualan semen domestik diperkirakan tumbuh sekitar 1%--2% pada 2026 dengan syarat pertumbuhan ekonomi nasional membaik, adanya proyek infrastruktur baru, dan keberlanjutan program 3 juta rumah.

Di samping itu, SMCB juga menargetkan menjaga margin laba bersih di kisaran 6%-7% pada 2026.

“Fokus utama kami bukan agresivitas volume saja, melainkan menjaga profitabilitas di tengah perang harga yang sulit dihindari akibat tantangan kelebihan kapasitas industri,” ujar dia dalam paparan publik, Jumat (22/5/2026).

Sebagai upaya menanggulangi masalah kelebihan kapasitas, SMCB mencoba mencari peluang baru melalui penjualan ekspor. SMCB bersinergi dengan induk usaha SMGR dan Taiheiyo Cement Corporation (TCC) telah merampungkan proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi semen tipe V di Tuban.

Baca Juga: Bidik Pertumbuhan Laba, Begini Strategi Garuda Maintenance Facility (GMFI)

Fasilitas ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan ekspor semen ke Amerika Serikat (AS) yang akan dilakukan mulai bulan Mei 2026. Bukan tanpa alasan SMCB memilih AS sebagai tujuan ekspor. Negeri Paman Sam secara historis mengimpor produk semen mencapai 25 juta ton per tahun, sehingga peluang bagi SMCB masih cukup terbuka. Apalagi, SMCB telah mengurus sertifikasi ekspor ke sana sejak satu tahun yang lalu.

Untuk ekspor ke AS, SMCB termasuk para eksportir semen Indonesia biasanya bakal bersaing dengan kompetitor utama dari Vietnam dan Turki.

Lantaran dermaga dan fasilitas produksi Tuban baru beroperasi, pada 2026 SMCB menargetkan dapat mengekspor semen sebanyak 450.000 ton. Nantinya secara bertahap SMCB menargetkan dapat meningkatkan volume ekspor semen hingga mencapai 1 juta ton per tahun, termasuk memperluas jangkauan negara tujuan ekspor.

“Kontribusi ekspor diperkirakan sekitar 10% terhadap total pendapatan dalam beberapa tahun mendatang,” kata Rizky.

Sedangkan untuk pasar domestik, SMCB berharap konstruksi proyek pembangunan tiga juta rumah dapat terus berlangsung, sehingga permintaan semen terus meningkat. Di samping itu, proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga diharapkan mampu memberi kontribusi, mengingat SMCB ikut terlibat sebagai pemasok semen.

Dalam kesempatan yang sama, Manajemen SMCB juga angkat bicara soal nasib saham emiten tersebut yang masih disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) 31 Januari 2025 akibat belum memenuhi ketentuan free float minimal 7,5%. Saat ini porsi saham publik SMCB masih di kisaran 1%, sedangkan sisanya dikuasai oleh pengendali.

Direktur Solusi Bangun Indonesia Asrudin mengaku, pihaknya telah dan masih membahas beberapa opsi untuk menambah porsi free float bersama SMGR dan konsultan-konsultan pasar modal. Ada beberapa opsi yang dapat dipertimbangkan SMCB untuk memulihkan kondisi harga sahamnya, termasuk rights issue sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Keputusan final soal itu (pemulihan saham) kami targetkan ada pada kuartal IV-2026,” imbuh dia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, peluang SMCB untuk terus mencetak kinerja yang solid cukup terbuka. Hasil kinerja kuartal I-2026 yang solid juga menunjukkan bahwa SMCB punya daya tahan yang baik di tengah kondisi industri semen yang menantang.

Langkah SMCB yang hendak mengoptimalkan pasar ekspor juga sudah tepat. Apalagi, mereka sudah punya modal berharga dengan keberadaan fasilitas dermaga dan produksi di Tuban yang didesain untuk kebutuhan ekspor.

“Strategi penguatan ekspor akan berdampak positif terhadap kinerja top line SMCB,” tukas dia, Jumat (22/5).

Lantaran saham SMCB masih disuspensi, Nafan tidak memiliki rekomendasi terhadap saham emiten pelat merah tersebut.

Dia pun menekankan pentingnya SMCB untuk menggelar aksi korporasi yang dapat meningkatkan jumlah saham publik secara bertahap. Tidak ada salahnya pula Danantara ikut terlibat dalam pemulihan saham SMCB yang notabene bagian dari anak usaha BUMN.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×