kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 18.012   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.108   66,24   1,10%
  • KOMPAS100 801   11,17   1,41%
  • LQ45 609   8,67   1,45%
  • ISSI 211   1,35   0,64%
  • IDX30 343   4,64   1,37%
  • IDXHIDIV20 429   6,16   1,46%
  • IDX80 91   1,30   1,44%
  • IDXV30 117   1,58   1,37%
  • IDXQ30 111   1,61   1,48%

Melihat Prospek Emiten yang Terlibat dalam Proyek Waste to Energy Tahap II


Kamis, 16 Juli 2026 / 20:38 WIB
Melihat Prospek Emiten yang Terlibat dalam Proyek Waste to Energy Tahap II
ILUSTRASI. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) (KONTAN/Muradi)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste-to-Energy (WtE) terus berlanjut. Sejumlah emiten pun ikut kecipratan oleh keberadaan proyek andalan pemerintah tersebut.

Sebagaimana diketahui, PT Danantara Investment Management (DIM) bersama PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) baru-baru ini mengumumkan delapan konsorsium terpilih untuk pengembangan proyek PSEL atau WTE Tahap II.

Dari sekian konsorsium, terdapat beberapa nama emiten yang ternyata terlibat dalam proyek tersebut. Misalnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang menggarap proyek PSEL di Serang Raya melalui anak usahanya Chandra Waste Energy yang tergabung dalam Konsorsium Masa Depan Energi Indonesia.

Selain itu, ada PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) yang menjadi bagian dari Konsorsium Bumi Biru Indoneia yang turut melibatkan SUS Indoplas. Konsorsium ini menggarap proyek PSEL di Lampung Raya.

Proyek PSEL di Surabaya Raya turut melibatkan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan PT Astrindo Nusantara Infrastructure Tbk (BIPI). Jadi, proyek tersebut digarap oleh Konsorsium Mentari Citra Lestari yang beranggotakan PT Bakrie Power selaku anak usaha tidak langsung BNBR. Salah satu anggota lainnya dalam konsorsium tersebut adalah SUS Indonesia Holdings yang terafiliasi dengan BIPI.

Baca Juga: Danantara Tunjuk Mitra PSEL Tahap Kedua, Didominasi 4 Perusahaan Lokal

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, sejumlah emiten yang terlibat dalam proyek PSEL berpotensi memperoleh manfaat berupa bertambahnya sumber pertumbuhan pendapatan jangka panjang, meskipun dampak proyek tersebut tidak akan langsung signifikan pada tahap awal. 

Model bisnis PSEL umumnya didukung kontrak jangka panjang selama 20–30 tahun dengan pemerintah daerah dan PLN, sehingga memberikan arus kas yang relatif stabil setelah fasilitas mulai beroperasi. 

Bagi TPIA, proyek ini juga sejalan dengan strategi diversifikasi ke bisnis infrastruktur dan transisi energi, sehingga dapat memperluas portofolio di luar petrokimia. Sementara itu, OASA yang memang memiliki fokus pada pengelolaan limbah dan energi terbarukan, berpotensi memperoleh kontribusi yang lebih material terhadap pendapatan apabila proyek berjalan sesuai jadwal. 

Di sisi lain, BNBR dan BIPI masih bergantung pada porsi kepemilikan dan peran afiliasinya dalam proyek PSEL, sehingga dampaknya terhadap kinerja keuangan kemungkinan lebih terbatas dalam jangka pendek. 

Baca Juga: Pemerintah dan Danantara Groundbreaking PSEL Pertama di Indonesia

Di atas kertas, kelebihan proyek PSEL adalah tersedianya potensi pendapatan yang bersifat berulang (recurring income), mendukung implementasi ESG, serta membuka peluang proyek lanjutan. 

"Namun, tantangannya juga cukup besar, seperti kebutuhan belanja modal yang tinggi, masa konstruksi yang panjang, risiko keterlambatan perizinan, kepastian pasokan sampah, hingga ketergantungan terhadap dukungan regulasi dan skema tarif listrik," ungkap Arinda, Kamis (16/7/2026).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menambahkan, aspek pendanaan menjadi salah satu faktor paling krusial dalam keberhasilan proyek PSEL. Dengan karakteristik proyek PSEL yang tergolong padat modal, emiten yang menjadi mitra perlu menyiapkan struktur pembiayaan yang sehat agar tidak membebani neraca secara berlebihan.

Dari situ, ada beberapa strategi yang bisa ditempuh emiten agar dapat menjalankan proyek PSEL secara maksimal. Di antaranya adalah mengoptimalkan kombinasi pendanaan dari ekuitas, pinjaman perbankan, maupun project financing; memanfaatkan pembiayaan hijau (green financing), green bond, sustainability-linked loan, maupun pendanaan dari lembaga multilateral apabila memenuhi kriteria ESG, serta menjaga disiplin eksekusi proyek agar penyelesaian konstruksi sesuai target waktu dan anggaran.

Tak hanya itu, emiten juga harus menjalin koordinasi yang kuat dengan pemerintah daerah dan PLN terkait kepastian pasokan sampah, tarif listrik, maupun mekanisme pembayaran tipping fee.

Baca Juga: Anak Usaha Solusi Environment Asia (SOFA) Jadi Mitra Lokal Proyek PSEL Danantara

"Keberhasilan proyek bukan hanya ditentukan oleh kemampuan membangun fasilitas, tetapi juga oleh kemampuan menyusun struktur pendanaan yang efisien serta mengelola risiko operasional," ungkap dia, Kamis (16/7/2026).

Nafan melanjutkan, peluang bertambahnya jumlah emiten yang terlibat cukup besar apabila pemerintah terus memperluas implementasi PSEL sebagai bagian dari target pengelolaan sampah nasional dan transisi energi.

Proyek PSEL ke depannya bakal menarik bagi emiten yang punya pengalaman di sektor energi, utilitas, maupun pembangkit listrik, kompetensi dalam bidang engineering, procurement, and construction (EPC), dan kemampuan pengelolaan limbah dan infrastruktur lingkungan.

Tak ketinggalan, proyek ini juga bakal menarik bagi emiten yang punya neraca keuangan kuat, sehingga mampu mendukung investasi jangka panjang, hingga rekam jejak dalam proyek bersifat kemitraan pemerintah-swasta ataupun infrastruktur berskala besar.

Terlepas dari itu, Arinda mengingatkan agar investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko terkait proyek PSEL. Di antaranya adalah risiko perubahan regulasi, keterlambatan pembangunan, pembengkakan biaya konstruksi, ketidakpastian volume pasokan sampah, dan risiko teknologi.

"Potensi perubahan kebijakan tarif atau dukungan fiskal pemerintah yang dapat memengaruhi kelayakan proyek juga perlu diwaspadai," jelas dia.

Arinda sendiri menyarankan investor untuk mencermati saham TPIA dengan target harga di level Rp 2.000 per saham. Senada, Nafan merekomendasikan add saham TPIA dengan target harga di level Rp 2.940 per saham.

Baca Juga: Saham Ini Tersengat Sentimen Proyek PSEL Danantara, Begini Strategis Investasinya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×