kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45689,61   -8,12   -1.16%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Mau untung, Integra Indocabinet (WOOD) harus fokus sasar pasar ekspor


Kamis, 30 Januari 2020 / 20:18 WIB
Mau untung, Integra Indocabinet (WOOD) harus fokus sasar pasar ekspor
ILUSTRASI. Perusahaan manufaktur berbahan kayu seperti furnitur, furniture, mebel, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD)

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) optimistis kinerja ekspor perusahaan akan membaik pada tahun ini. Emiten itu meyakini, pasar ekspor masih punya potensi yang besar untuk dimaksimalkan guna mendongkrak pendapatan.

Asal tahu saja, WOOD tahun ini menargetkan bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 2,85 triliun. Salah satu sektor yang akan dioptimalkan adalah pasar ekspor. Pada 2018 lalu, WOOD mencatatkan kenaikan penjualan ekspor sebesar 46%. Sementara untuk tahun 2019, emiten ini memproyeksikan penjualan ekspor bisa tumbuh hingga 63%.

Para analis melihat prospek WOOD pada tahun ini menarik karena ditunjang beberapa katalis positif. 

Analis Trimegah Sekuritas Sebastian Tobing dalam risetnya pada 15 Januari 2020 melihat pertumbuhan WOOD pada tahun ini akan positif.

Baca Juga: Pasar furnitur kayu turun, WOOD tetap optimistis tumbuh

“Tahun 2019 memang agak menurun imbas pelemahan penjualan domestik dan ekspansi yang molor. Tapi kalau bicara 2020, kami proyeksikan WOOD bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 28% atau senilai Rp 2,62 triliun,” tulis Sebastian dalam risetnya.

Sementara untuk pendapatan WOOD pada 2019, Sebastian memproyeksikan WOOD akan mengantongi Rp 1,99 triliun.

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas menilai prospek WOOD masih akan oke pada tahun ini. Kendati permintaan domestik diperkirakan masih akan lesu, Sukarno menilai WOOD bisa mendorong dari segi ekspor untuk meningkatkan kinerjanya.

“Tapi ekspor ini juga sedikit ada kekhawatiran kalau rupiah terus berada dalam tren penguatan. Sebab pendapatan dalam bentuk dolar akan sangat mungkin turun,” ujar Sukarno ketika dihubungi Kontan.co.id, Kamis (30/1).

Selain pendapatan dolar yang turun, imbas penguatan rupiah adalah harga jual bisa menjadi kurang kompetitif dan bisa membuat permintaan akan turun. Dengan demikian, volume ekspor akan kurang maksimal jika penguatan rupiah terjadi secara signifikan.




TERBARU

Close [X]
×