CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Matahari (LPPF) dan Mitra Adiperkasa (MAPI) ekspansi, ini rekomendasi analis


Senin, 11 November 2019 / 22:32 WIB
Matahari (LPPF) dan Mitra Adiperkasa (MAPI) ekspansi, ini rekomendasi analis
ILUSTRASI. Matahari Department Store (LPPF) dan Mitra Adiperkasa (MAPI) menyiapkan ekspansi.

Reporter: Kenia Intan | Editor: Wahyu Rahmawati

Ekpansi LPPF menjadi menarik karena perusahaan tersebut masih fokus ke toko offline dibandingkan dengan toko online.

Di sisi lain, ekspansi MAPI di sektor farmasi, kesehatan dan kecantikan dengan membuka gerai Boots juga dianggap tepat. Sebabnya, penjualan online di sektor tersebut dinilai belum dapat bersaing. Chris pun menyarankan untuk buy saham MAPI dengan target harga Rp 1.200 per saham.

Baca Juga: Penjualan Kotor Naik Tipis, Laba Bersih Matahari Department Store (LPPF) Turun 20,65%

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya, beranggapan berbeda. Jika melihat peta persaingan bisnis fast fashion, Christine melihat saham kedua emiten tersebut masih belum menarik untuk dikoleksi.

Sekadar informasi, hingga kuartal III 2019, Mitra Adiperkasa (MAPI) mencatatkan pertumbuhan pendapatan 11,43% secara year on year (yoy) menjadi Rp 15,40 triliun. Adapun pendapatan paling besar berasal dari segmen penjualan eceran dan grosir yakni 93,37% atau Rp 14,38 triliun.

Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ikut terkerek 13,92% yoy menjadi Rp 647,09 miliar. Seperti dikutip dalam keterbukaan, sepanjang kuartal III 2019 ada perbaikan margin perusahaan.

"Ini dipicu oleh menguatnya nilai mata uang rupiah, dan membaiknya proses merchandising, analisa data, serta inventory profiling," terang Fetty dalam keterbukaan.

Baca Juga: Kinerja Moncer, Laba Grup MAP Naik Dua Digit

Sementara itu, hingga kuartal III 2019, LPPF mencatatkan penurunan pendapatan 0,64% yoy menjadi Rp 7,82 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pun ikut terkikis 20,8% yoy menjadi Rp 1,18 triliun.




TERBARU

Close [X]
×