kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.001,30   -9,56   -0.95%
  • EMAS1.131.000 0,27%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Masih Punya Pekerjaan Rumah, Intip Prospek Merdeka Copper Gold (MDKA)


Rabu, 21 Juni 2023 / 20:29 WIB
Masih Punya Pekerjaan Rumah, Intip Prospek Merdeka Copper Gold (MDKA)
ILUSTRASI. rekomendasi saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dinilai masih memiliki pekerjaan rumah. Hal ini setelah kinerja kuartal I 2023 yang masih di bawah ekspektasi.

Equity Research Analyst Aldiracita Sekuritas Timothy Gracianov mengatakan hasil studi pra-kelayakan (PFS) pada proyek TB Copper dan IPO MBMA memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pelemahan harga saham MDKA.

Sementara itu, operasi saat ini untuk meningkatkan produksi dan menargetkan all in sustainable cost (AISC) yang lebih rendah juga menjadi pekerjaan rumah.

Pihaknya menggarisbawahi internal rate of return (IRR) TB Copper sebesar 20% berada di bawah ekspektasinya di level 28% jika dibandingkan dengan proyek AIM, yang mendapatkan IRR 26%.

“Dengan demikian, net present value (NPV) PFS TB Copper turun menjadi US$ 3 miliar dibandingkan estimasi kami sebesar US$ 4,3 miliar, tetapi masih dapat diterima,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (21/6).

Baca Juga: Garap Proyek Tembaga, Emas, dan Nikel, Begini Strategi Ekspansi Merdeka Copper (MDKA)

Dijelaskan, tahap pertama produksi yang berfokus pada sub-level cove (SLC) akan dimulai pada tahun 2026 dengan produksi sebesar 4 Mtpa. Baru akan mencapai kapasitas penuh pada tahun 2034 dengan produksi sebesar 24 Mtpa.

“Kami melihat asumsi harga yang wajar untuk tembaga dan emas yang disesuaikan dengan inflasi 2,2%, masing-masing sebesar US$8.192/t dan US$1.615/oz, kami menggunakan NPV dari manajemen untuk penilaian proyek TB Copper, dengan tetap memperhatikan harga komoditas dan eksekusi proyek,” paparnya.

Timothy juga menjelaskan harga saham MBMA memberatkan MDKA karena secara konservatif harga saham MBMA saat ini hanya mengimplikasikan valuasi dari smelter CSID dan BSID RKEF yang telah beroperasi.

Menurutnya, masih terdapat proyek-proyek besar yang belum dikembangkan seperti tambang nikel SCM yang belum dikembangkan yang memiliki sumber daya (cadangan inklusif) sebesar 9,6 juta ton nikel limonit dan 4,3 juta ton nikel saprolite. Lalu, proyek HPAL 1a dengan produksi 60 ribu ton per tahun yang mulai beroperasi pada tahun 2025, serta IKIP.

Ia pun memperkirakan EBITDA kuartal II 2023 akan tumbuh sekitar 25% secara kuartalan (QoQ) menjadi US$ 55 juta didukung oleh produksi emas yang lebih tinggi sebesar 15% - 20% QoQ menjadi 30 ribu oz - 32 ribu oz. Hal itu juga dilihat yang juga akan mendorong AISC lebih rendah ke arah panduan US$1.200/oz dibandingkan kuartal I 2023 sebesar US$1.262 ribu oz.

 

“AISC yang lebih rendah dari proyek Wetar Copper karena kuartal I 2023 memiliki tambahan belanja modal untuk armada pertambangan baru, dan harga batubara metalurgi yang lebih rendah secara kuartalan akan mengurangi biaya peleburan nikel,” terangnya.

Sementara untuk kinerja sepanjang tahun ini diperkirakan pendapatan MDKA mencapai US$ 814 juta. Sementara laba bersih sebesar US$ 43 juta.

Aldiracita mempertahankan perkiraan dan rekomendasi beli MDKA dengan target harga di Rp 4.230 per saham. Pada penutupan perdagangan Rabu (21/6) harga MDKA naik 3,44% ke level Rp 3.010 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×