kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Lima ETF Emas Kompak Menguat, Begini Strategi Investor Ritel


Minggu, 23 Agustus 2026 / 16:48 WIB
Lima ETF Emas Kompak Menguat, Begini Strategi Investor Ritel
ILUSTRASI. ETF Emas (Shutterstock/gopixa)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lima produk exchange traded fund (ETF) berbasis emas kompak menguat pada perdagangan Jumat (21/8/2026).

Pergerakan tersebut terjadi setelah kelima produk mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 10 Agustus 2026.

Berdasarkan data Stockbit, XGLD mencatat kenaikan paling tinggi sebesar 2,71% menjadi Rp 265 per unit.

Kemudian XTRA naik 1,54% menjadi Rp 264 per unit, XSGO menguat 1,34% menjadi Rp 1.058 per unit, XMES naik 0,59% menjadi Rp 855 per unit, dan XDES menguat 0,20% menjadi Rp 1.000 per unit.

Kelima ETF emas tersebut terdiri dari Trimegah Syariah ETF Emas dengan kode XTRA, Mandiri ETF Emas (XMES), BRI MI Gold ETF Syariah (XDES), Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO), serta Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD).

Baca Juga: Pekan Kedua Perdagangan, ETF Emas Masih dalam Fase Price Discovery

Di tengah pergerakan harga tersebut, investor ritel memiliki sejumlah pilihan untuk mendapatkan eksposur terhadap emas melalui mekanisme perdagangan di bursa. Namun, pola investasi investor ritel Indonesia terhadap ETF emas masih belum terlihat jelas.

Financial Planner sekaligus CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni mengatakan pola investasi ETF emas di kalangan investor ritel Indonesia masih membutuhkan waktu untuk terbentuk.

Kondisi tersebut berbeda dengan pasar Korea Selatan yang menurutnya telah menunjukkan pola pembelian ETF emas secara berkala.

"Saya masih wait and see dengan perilaku investor ritel Indonesia terhadap produk ETF emas," ujar Melvin.

Melvin mengatakan, berdasarkan wawancara yang pernah dilakukannya dengan warga negara Korea Selatan, investor ritel di negara tersebut membeli ETF emas menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA).

DCA merupakan strategi investasi dengan membeli aset secara berkala menggunakan nominal tertentu. Strategi ini memungkinkan investor melakukan pembelian secara bertahap tanpa harus menentukan satu waktu untuk menempatkan seluruh dana investasi.

Baca Juga: DPLK Syariah Muamalat Jadi Investor Pertama ETF Emas XGLD

Melvin mengatakan pola pembelian ETF emas di Korea Selatan belum tentu sama dengan yang berkembang di Indonesia. Perilaku investor ritel terhadap instrumen tersebut masih perlu diamati.

Ia mengingatkan investor ritel agar tidak menjadikan harga unit sebagai satu-satunya pertimbangan. Biaya, bid-offer spread, likuiditas, serta karakteristik masing-masing produk juga perlu diperhatikan.

"Investor, khususnya ritel, wajib memperhatikan biaya, spread bid-offer, serta perbedaan karakteristik masing-masing produk, bukan hanya melihat harga unitnya," ujarnya.

Selain itu, harga ETF di pasar sekunder tidak selalu sama dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB). Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi permintaan dan penawaran serta likuiditas perdagangan.

Sementara itu, Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto menilai prospek ETF emas tetap berkaitan erat dengan pergerakan emas sebagai aset dasar (underlying asset).

Menurut Eko, kecenderungan harga emas yang masih meningkat dapat menjadi sentimen positif bagi ETF emas. Ia juga melihat emas memiliki prospek untuk investasi jangka panjang berdasarkan kecenderungan kenaikan harga emas secara historis di Indonesia.

"Secara umum produk derivatif pasti akan mengikuti produk intinya yaitu emas itu sendiri. Dengan kecenderungan emas yang sedang naik dan terus meningkat, maka kita bisa pastikan produk ini akan menjadi baik," kata Eko.

Baca Juga: ETF Emas Dapat Menjadi Pilihan Diversifikasi Portofolio di Tengah Harga Emas Tinggi

Meski demikian, Eko menekankan pentingnya pengelolaan dan transparansi produk. Sementara bagi investor ritel, strategi pembelian ETF emas tetap perlu disesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.

Dengan lima ETF emas yang tersedia di BEI, investor kini memiliki alternatif untuk mendapatkan eksposur terhadap emas tanpa harus membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung.

Namun, perkembangan pola investasi ritel terhadap instrumen tersebut masih perlu dicermati seiring dengan bertambahnya aktivitas perdagangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×