Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Dupla Kartini
JAKARTA. Pernyataan pejabat The Fed yang menguatkan spekulasi kenaikan suku bunga menyebabkan laju harga emas agak tersendat. Si kuning bergerak dalam volatilitas tinggi lantaran menanti pidato Gubernur The Fed Janet Yellen pada akhir pekan ini.
Mengutip Bloomberg, Selasa (23/4) pukul 15.33 WIB, harga emas kontrak pengiriman Desember 2016 di Commodty Exchange menguat tipis 0,06% ke level US$ 1.344,3 per ons troi dibanding sehari sebelumnya. Tapi, sepekan terakhir, harga emas tergerus 0,90%.
Analis PT Cerdas Indonesia Berjangka, Suluh Adil Wicaksnono menjelaskan, isu kenaikan suku bunga The Fed kembali menguat setelah pejabat The Fed mengeluarkan pernyataan hawkish. Wakil Gubernur The Fed, Stanley Fischer dalam pidatonya pada Minggu (21/8), menyatakan ekonomi Amerika Serikat (AS) telah mendekati target dan dalam pertumbuhan yang baik. Hal tersebut menjaga peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini.
Suku bunga yang lebih tinggi menggerus daya tarik emas yang tidak dapat menghasilkan bunga. Ekspektasi kenaikan suku bunga bulan Desember telah meningkat menjadi 53% dari 36% pada awal bulan ini. "Tetapi ketidakpastian masih tinggi dan sepertinya baru akan terjawab ketika Gubernur The Fed Janet Yellen berpidato di Jackson Hole Symposium akhir pekan nanti," ujar Suluh.
Pidato Yellen memang biasanya menjadi sentimen yang paling dinantikan pasar. Maka tak heran jika volatilitas harga emas masih cukup tinggi. "Saat ini harga emas sudah mulai mengalami teknikal rebound karena pelaku pasar memanfaatkan turunnya harga untuk kembali membeli emas," lanjut Suluh.
Pergerakan harga selanjutnya tergantung pada isi pidato Yellen. Jika Yellen mengindikasikan suku bunga ditahan, Suluh menduga harga emas akan ke atas US$ 1.350 per ons troi.
Kemungkinan suku bunga The Fed ditahan tahun ini sebenarnya masih cukup besar. Data tenaga kerja di luar sektor pertanian atau non farm payroll AS memang cukup bagus. Tapi, tingkat pengangguran masih tinggi di kisaran 4,9%. Apalagi, negeri Paman Sam akan mengadakan pemilihan Presiden pada bulan November mendatang. "Saya rasa The Fed tidak akan berani membuat kebijakan signifikan walaupun hanya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin," proyeksi Suluh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













