Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan hingga kuartal III-2026. Namun, lonjakan laba tersebut belum serta-merta mencerminkan prospek pertumbuhan yang berkelanjutan bagi emiten tambang batubara ini.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, PTBA membukukan laba bersih Rp 4,41 triliun atau melonjak 216% secara tahunan (YoY). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata batubara sebesar 18% YoY. Sementara itu, beban pokok pendapatan relatif stabil sehingga margin laba kotor meningkat menjadi 20,6%, dibandingkan 11,4% pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, volume produksi dan penjualan masih menjadi perhatian. Hingga September 2026, produksi batubara PTBA tercatat sebesar 34,4 juta ton atau turun 4% YoY. Penjualan juga melemah 4% YoY menjadi 32,2 juta ton.
Baca Juga: IHSG Masih Dibayangi Tekanan, Berikut Saham yang Bisa Dicermati Pekan Ini
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal mengatakan, reli saham PTBA dalam beberapa pekan terakhir banyak ditopang oleh faktor musiman.
"Setelah reli yang didorong oleh faktor musiman yang kuat, seperti El Nino dan ketahanan operasional di Sumatera, kami kembali berfokus pada fundamental. Seiring kembalinya hujan di Kalimantan, premi valuasi PTBA mulai menyusut sehingga aksi ambil untung menjadi langkah yang dapat dipahami," ujar Fauzan dalam risetnya, Senin (2/11/2026).
Di sisi operasional, Fauzan mencatat volume angkutan kereta api PTBA turun 10% YoY. Ia mempertahankan proyeksi produksi PTBA sepanjang 2026 sebesar 47,1 juta ton, lebih rendah dibandingkan target perusahaan sebesar 49,5 juta ton.
Fauzan memperkirakan kinerja PTBA pada kuartal IV-2026 akan lebih moderat. Kembalinya musim hujan berpotensi menghambat produksi, sementara kenaikan biaya menjelang akhir tahun juga dapat menekan kinerja perusahaan. Dengan kondisi tersebut, kuartal III-2026 diperkirakan menjadi periode dengan kinerja terbaik PTBA dalam siklus saat ini.
Memasuki 2027, prospek kinerja PTBA masih menghadapi tantangan dari sisi harga jual batubara. Fauzan memproyeksikan harga jual rata-rata batubara PTBA turun sekitar 6%, seiring perkiraan penurunan harga acuan batubara ICI-3 menjadi US$ 63 per ton.
Kondisi tersebut berpotensi menekan laba bersih PTBA pada 2027 menjadi Rp 4,82 triliun atau turun 12% dibandingkan proyeksi 2026 sebesar Rp 5,49 triliun.
Kendati demikian, volume produksi diperkirakan meningkat 5% YoY menjadi 49,5 juta ton. Proyeksi tersebut masih bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2027.
Sementara itu, peluang pertumbuhan yang lebih besar diperkirakan baru terlihat pada 2028, seiring peningkatan kapasitas angkutan kereta api melalui jalur Tanjung Enim-Keramasan. Fauzan memperkirakan produksi PTBA dapat tumbuh 7% pada 2028 seiring peningkatan kapasitas jalur tersebut.
Terkait prospek saham dalam jangka pendek, Fauzan mengatakan pergerakannya masih akan dipengaruhi kondisi pasar dan ketidakpastian arus dana keluar investor asing.
"Untuk saat ini, kondisi pasar masih menentukan arah pergerakan saham dalam jangka pendek karena ketidakpastian arus dana keluar investor asing masih membayangi. Sementara itu, potensi kenaikan harga saham dan peningkatan valuasi secara berkelanjutan masih membutuhkan konfirmasi pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi serta kejelasan RKAB," jelasnya.
Selain itu, kebijakan pembagian dividen dengan rasio sekitar 45% disebut belum cukup kuat untuk menjadi penopang daya tarik saham PTBA. Percepatan proyek jalur kereta api maupun hilirisasi juga masih membutuhkan waktu sebelum memberikan kontribusi sebagai katalis pertumbuhan.
Atas pertimbangan tersebut, Fauzan menurunkan rekomendasi saham PTBA menjadi sell dari sebelumnya buy. Target harga saham juga dipangkas menjadi Rp 2.890 per saham dari Rp 3.870 per saham, yang mengindikasikan potensi penurunan sebesar 10,8%. Adapun risiko kenaikan harga saham antara lain berasal dari musim kemarau yang lebih panjang dan kenaikan harga batubara.
Baca Juga: Menanti Data Ekonomi AS, Indeks Dolar Bergerak Stabil di Kisaran 102
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














