kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.933   47,00   0,26%
  • IDX 6.031   -115,44   -1,88%
  • KOMPAS100 775   -16,68   -2,11%
  • LQ45 594   -12,08   -1,99%
  • ISSI 211   -3,62   -1,69%
  • IDX30 330   -5,56   -1,66%
  • IDXHIDIV20 422   -7,90   -1,84%
  • IDX80 89   -1,90   -2,10%
  • IDXV30 116   -1,38   -1,18%
  • IDXQ30 108   -1,77   -1,61%

Laba Medco Energi (MEDC) Diproyeksi Moncer, Ini Faktor Pendukungnya


Kamis, 08 Oktober 2026 / 18:35 WIB
Laba Medco Energi (MEDC) Diproyeksi Moncer, Ini Faktor Pendukungnya
ILUSTRASI. Medco Energi Internasional, MEDC (DOK/MEDC)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja laba bersih PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) diprediksi moncer untuk tahun 2026 hingga 2028. 

BRI Danareksa Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih MEDC untuk 2026, 2027, dan 2028 masing-masing sebesar 27%, 51%, dan 62%. Dengan revisi itu, laba bersih diperkirakan mencapai US$ 492 juta pada 2026, US$ 634 juta pada 2027, dan US$ 672 juta pada 2028.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey menjelaskan proyeksi laba bersih tersebut terutama didorong dua faktor. Pertama, kontribusi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang lebih besar.

Estimasi kontribusi AMMN naik menjadi US$ 273 juta pada 2026, US$ 400 juta pada 2027, dan US$ 470 juta pada 2028. Hal ini sejalan dengan peningkatan produksi tembaga dan emas milik AMMN serta operasinya yang mulai normal setelah smelter beroperasi.

Baca Juga: Harga Minyak WTI Berpotensi Volatil di Tengah Risiko Gangguan Hormuz

Faktor kedua ialah, asumsi harga minyak yang lebih tinggi, yakni US$ 86, US$ 84, dan US $82 per barel untuk 2026-2028, dari sebelumnya US$ 80, US$ 76, dan US$ 75 per barel. Andhika bilang asumsi harga minyak tersebut didasarkan pada prospek pasokan yang semakin ketat di tengah penurunan signifikan pada cadangan minyak strategis.

Proyek Baru Berproduksi Bertahap

Setelah laporan kinerja semester I-2026 yang melampaui ekspektasi, manajemen MEDC tetap mempertahankan target produksi minyak dan gas 2026 di kisaran 165-170 mboepd. Padahal pada semester I-2026 produksi sudah mencapai 170,1 mboepd. 

Alasannya, produksi pada paruh kedua 2026 akan terdampak oleh rencana pemeliharaan fasilitas atau plant maintenance serta penurunan produksi secara alamiah atau natural decline.

Meski begitu, Andhika bilang pertumbuhan produksi akan datang bertahap. Proyek Sambar mulai berproduksi sebagian pada kuartal IV 2026, dengan volume sekitar 108 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd) pada 2027. Kemudian, Rebonjaro ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal I 2027.

Baca Juga: Haji Isam Tuntaskan Akuisisi 30,25% Saham BYAN, Harga Beli di Rp 2.588 per Saham

Selanjutnya, proyek Sakakemang diharapkan menghasilkan gas pertama pada kuartal III 2027, sekitar 85 mmscfd. Untuk mempercepat pengembangan Sakakemang, manajemen menaikkan belanja modal (capex) migas 2026 menjadi US$ 450-US$ 475 juta, dari rencana semula US$ 415 juta.

Adapun proyek Senoro Fase 2A menghasilkan sekitar 340 mmscfd dan diperkirakan stabil di level tersebut hingga 2031. Disamping itu, Cendramas PSC di Malaysia resmi berlaku pada 23 September 2026, dengan MEDC bertindak sebagai operator.

"Berdasarkan panduan terbaru tersebut, kami menaikkan proyeksi produksi MEDC untuk 2026-2028 sebesar 0,8%-4,6%, menjadi 170, 178, dan 179 mboepd. Proyeksi sebelumnya adalah 168, 174, dan 177 mboepd," kata Andhika dalam riset yang dipublikasikan, Rabu (7/10/2026).

Secara terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama melihat prospek jangka panjang MEDC masih cukup positif. 

Pertumbuhan laba ke depan bisa ditopang oleh beberapa faktor, terutama peningkatan produksi migas dari proyek-proyek baru dan optimalisasi aset existing, termasuk Oman Block 60. 

Di sisi lain, kontribusi AMMN juga berpotensi semakin signifikan seiring normalisasi dan peningkatan produksi tambang serta smelter. MEDC sendiri memiliki sekitar 20,9% kepemilikan di AMMN.

"Jadi kalau asumsi harga minyak tetap supportive dan produksi berhasil meningkat sesuai rencana, earnings MEDC masih punya ruang untuk tumbuh. Diversifikasi bisnis ke power dan mining juga membuat sumber pendapatan MEDC lebih beragam, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada harga minyak," ucap Elandry.

Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham ADRO, BBSI, dan GOTO untuk Jumat (9/10)

Tapi, risiko utamanya tetap berasal dari volatilitas harga minyak dan gas, fluktuasi harga komoditas, serta execution risk dari proyek-proyek baru. Selain itu, investor juga perlu mencermati capex dan leverage, karena ekspansi produksi membutuhkan investasi yang cukup besar. Untuk AMMN, perkembangan produksi dan operasional smelter juga menjadi faktor penting terhadap besarnya kontribusi ke laba MEDC.

Andhika mempertahankan rekomendasi buy saham MEDC dengan target harga berbasis metode Sum-of-the-Parts (SOTP) sebesar Rp 2.300 dari sebelumnya Rp 2.200 per saham. Target tersebut setara dengan rasio harga terhadap laba (P/E) 5,2 kali pada 2027.

Target harga saham MEDC sejalan dengan prospek pertumbuhan laba perusahaan yang didukung sejumlah faktor. Pengembangan lapangan Corridor dan Sakakemang diperkirakan mendorong kenaikan volume produksi pada 2027. Di sisi lain, peningkatan operasi smelter milik AMMN, yang diharapkan mencapai kapasitas penuh, turut memperkuat kontribusi terhadap kinerja keuangan MEDC.

Perusahaan juga memiliki peluang pertumbuhan dari perpanjangan PSC Madura selama 20 tahun. Tak hanya itu, dua PSC baru, yakni Nawasena di Jawa Timur dan Cendramas di Malaysia, membuka potensi ekspansi tambahan yang dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan MEDC.

Kendati demikian, ada sejumlah risiko utama yang perlu dicermati investor, antara lain penurunan harga minyak, keterlambatan proyek AMMN dan lambatnya proses perpanjangan PSC untuk blok Lematang, Sampang dan Block B.

Disamping itu, Elandry mengungkapkan bahwa MEDC lebih menarik untuk horizon menengah hingga panjang dibandingkan sekadar trading jangka pendek. Sentimen pasar terhadap sektor energi memang bisa berubah cukup cepat mengikuti pergerakan oil price, sehingga tetap perlu memperhatikan risk appetite dan capital flow.

"Saya melihat MEDC sebagai saham yang menarik untuk buy secara bertahap dengan target harga sekitar Rp 2.000–Rp 2.100," tambah Eladnry.

Menurut Elandry, area harga sekarang masih cukup reasonable untuk akumulasi bertahap, dengan catatan investor tetap memperhatikan volatilitas harga minyak dan perkembangan kinerja AMMN maupun produksi migas MEDC. Konsensus analis saat ini juga berada di kisaran Rp 2.109, dengan rentang target sekitar Rp 1.610–Rp 2.701.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×