Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga Surat Utang Negara (SUN) diproyeksikan bakal cenderung bervariasi pada perdagangan hari ini.
Mengingat dinamika pasar global dan domestik terbaru, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia (Indo-GB) tenor 10 tahun diperkirakan bergerak pada kisaran 7,10% hingga 7,25%.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas Ridwan Adi Gunawan mengatakan bahwa pasar obligasi global pada perdagangan sebelumnya menunjukkan pergerakan yang cenderung beragam.
Di Bursa Amerika Serikat (AS), indeks saham Wall Street melemah akibat kenaikan harga minyak mentah Brent yang sempat menembus USD 100 per barel.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Gelombang Utang AI Kamis (8/10), Yield Obligasi Kembali Naik
Tren ini kembali memicu kecemasan terhadap prospek inflasi serta potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer). Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat naik +1,0 bps menjadi 5,28%.
Dari dalam negeri, perdagangan SUN pada Rabu (7/10/2026) relatif stabil dengan pergerakan yield berkisar 1–5 bps secara acak di sepanjang kurva.
Menurut Ridwan, minat investor terpantau lebih solid pada segmen tenor pendek 1–5 tahun, yang ditopang oleh masuknya aliran modal asing (foreign inflows) serta penguatan nilai tukar rupiah ke level Rp 17.882 per dolar AS.
Sebaliknya, segmen tenor panjang bergerak lebih terbatas lantaran tingginya yield global membuat pelaku pasar bersikap hati-hati.
Adapun yield SUN tenor 5 tahun turun 3,0 bps ke level 7,03%, sedangkan tenor 10 tahun tidak mengalami perubahan di posisi 7,18%.
Aktivitas transaksi pasar sekunder didominasi oleh seri FR0110, PBS030, dan FR0109 yang mencatatkan nilai perdagangan terbesar.
Baca Juga: SBR015 Tembus Rp 2,3 Triliun, Ini Tenor yang Paling Banyak Diburu Investor
Ridwan menyebutkan bahwa kondisi fundamental domestik masih mampu menopang ketahanan pasar obligasi.
"Mencermati perkembangan terkini di pasar global maupun domestik, kami memperkirakan yield Indo-GB 10 tahun akan diperdagangkan dalam rentang 7,10-7,25% untuk hari ini," kata Ridwan dalam risetnya, Kamis (8/10/2026).
Ketahanan pasar domestik turut ditopang oleh kecukupan cadangan devisa Indonesia per akhir September 2026 yang berada di level USD 146,3 miliar, senilai dengan pembiayaan 5,3 bulan impor.
Di samping itu, basis moneter terpenuhi secara memadai dengan pertumbuhan M0 yang disesuaikan sebesar +9,3% secara tahunan (YoY) mencapai Rp 2.353,1 triliun.
Untuk perdagangan hari ini, beberapa seri SUN dan SBSN dinilai memiliki daya tarik tinggi untuk dimanfaatkan oleh para pelaku pasar.
Seri-seri yang direkomendasikan antara lain FR0064, PBS030, FR0100, FR0080, serta FR0083.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














