Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatatkan lonjakan kinerja pada semester I-2026. Pertumbuhan itu ditopang oleh optimalisasi aset produksi hingga kontribusi bisnis tambang.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, MEDC membukukan pendapatan sebesar US$ 1,41 miliar. Pendapatan tersebut meningkat 23,35% secara tahunan atau year on year (YoY) dari US$ 1,14 miliar.
Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan berkontribusi sebesar US$ 1,38 miliar atau tumbuh 23,37% YoY. Sementara itu, pendapatan keuangan mencapai US$ 29,27 juta, meningkat 22,42% YoY.
Seiring pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan dan biaya langsung MEDC juga meningkat 18,92% secara tahunan menjadi US$ 826,25 juta di semester I-2026 dari sebelumnya US$ 694,80 juta di semester I-2025.
Baca Juga: Laba Bersih Medco Energi (MEDC) Melesat 796% di Semester I-2026
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut mampu mendorong laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk MEDC. Laba bersih mencapai US$ 275,31 juta atau melonjak 796,60% YoY.
Pada semester I-2025, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk MEDC tercatat sebesar US$3 0,70 juta. Kinerja semester I-2026 tersebut juga sejalan dengan peningkatan produksi serta kontribusi bisnis lainnya.
Dari sisi operasional, MEDC mencatatkan produksi minyak dan gas sebesar 170.000 barel setara minyak per hari (mboepd). Produksi tersebut sesuai dengan panduan 2026, dengan kontribusi gas sekitar 72%.
Produksi tersebut ditopang sejumlah aset utama MEDC, termasuk tambahan hak partisipasi di Blok Corridor, produksi Lapangan Forel dan Terubuk, serta pengeboran pengembangan Bualuang di Thailand.
Selain itu, penyelesaian proyek Bisat C di Blok 60 Oman dan kontribusi penuh proyek Senoro Fase 2A turut mendukung produksi. Senoro Fase 2A telah beroperasi penuh pada Juni 2026.
CEO MedcoEnergi Ronald Gunawan mengatakan pencapaian semester pertama mencerminkan kemampuan MEDC dalam mengeksekusi proyek serta menjaga keandalan operasional aset produksi.
“Fokus kami sepanjang semester ini adalah memastikan aset-aset utama beroperasi optimal dan proyek pengembangan berjalan sesuai jadwal. Senoro Fase 2A telah beroperasi penuh pada Juni,” tulisnya dalam keterbukaan informasi, Selasa (22/9/2026).
Ronald bilang proyek Sakakemang juga masih sesuai jalur untuk mencapai produksi gas pertama pada kuartal III-2027. MEDC turut menambah portofolio melalui penandatanganan PSC Blok Nawasena di Jawa Timur dan Blok Cendramas di Malaysia.
Baca Juga: Strategy Borong 950 Bitcoin, Keuntungan Belum Direalisasi Capai US$8 Miliar
Dari segmen ketenagalistrikan, MEDC mencatat penjualan listrik sebesar 2.323 GWh. Kinerja tersebut ditopang keandalan operasi Dalle Energy Batam, ekspansi Energi Listrik Batam, serta mulai beroperasinya PLTS Bali Timur.
Energi terbarukan menyumbang sekitar 25% dari total penjualan listrik MEDC. Di sisi lain, investasi pada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turut memberikan kontribusi positif setelah smelter beroperasi dengan kapasitas penuh.
Dari sisi profitabilitas, MEDC membukukan EBITDA sebesar US$ 805 juta dan laba kotor US$ 588 juta. Biaya kas produksi minyak dan gas juga terjaga pada US$ 8,4 per barel setara minyak.
Pada neraca, total aset MEDC per 30 Juni 2026 mencapai US$ 9,03 miliar. Angka tersebut meningkat 8,02% dibandingkan posisi 31 Desember 2025 yang mencapai US $8,36 miliar.
Sementara itu, total liabilitas MEDC mencapai US$ 6,05 miliar per 30 Juni 2026, naik 8,36% dibandingkan US$6 miliar pada 31 Desember 2025. Kemudian ekuitas MEDC tercatat sebesar US$ 2,52 miliar.
Posisi utang konsolidasi MEDC pada akhir Juni 2026 mencapai US$ 4,13 miliar, dengan kas dan setara kas sebesar US$ 1,40 miliar. Rasio utang bersih terhadap EBITDA Restricted Group tercatat 1,4 kali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














