kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.344   78,00   0,45%
  • IDX 7.101   28,83   0,41%
  • KOMPAS100 958   2,89   0,30%
  • LQ45 684   1,82   0,27%
  • ISSI 255   0,38   0,15%
  • IDX30 380   1,10   0,29%
  • IDXHIDIV20 465   2,14   0,46%
  • IDX80 107   0,37   0,34%
  • IDXV30 136   1,19   0,88%
  • IDXQ30 121   0,39   0,32%

Konflik Geopolitik Memanas, Franc Swiss Kembali Dilirik sebagai Safe Haven


Minggu, 08 Maret 2026 / 15:32 WIB
Konflik Geopolitik Memanas, Franc Swiss Kembali Dilirik sebagai Safe Haven
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Jose Luis Gonzalez)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik geopolitik Timur Tengah yang memanas mengguncang pasar keuangan dan mendorong investor memburu aset safe haven. Instrumen seperti emas, dolar Amerika Serikat (AS), yen Jepang dan franc Swiss menjadi tujuan utama arus dana karena dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik.

Melansir data Trading Economics, harga emas pada penutupan pasar spot Jumat (6/3/2026) naik 1,47% ke US$ 5.158,89 per ons troi dibanding hari sebelumnya. Sementara itu, indeks dollar (DXY) berada di level 98,98 menguat 2,24% dalam sebulan. 

Adapun, pairing valas USD/JPY berada di level 157,8 atau menguat 1,26% dalam sebulan. Kemudian, pairing valas USD/CHF juga menguat 1,28% sebulan jadi 0,77.

Baca Juga: Rekomendasi Saham Ritel 9 Maret 2026: MIDI, MAPA, MAPI, hingga ACES Masih Prospektif

Analis Komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan emas, dolar AS, yen Jepang, dan Swiss franc masih menjadi aset safe haven yang ideal. 

Namun, untuk saat ini kombinasi dari geopolitik, kekhawatiran inflasi dan prospek suku bunga membuat dolar AS melejit terkesan menjadi safe haven satu-satunya. 

Ia menambahkan penguatan dolar AS saat ini hanya murni karena kekhawatiran kenaikan harga bahan bakar yang bisa kembali memicu inflasi di AS dan menurunkan prospek pemangkasan suku bunga oleh The Fed, walaupun sebenarnya hal ini juga berlaku untuk negara lainnya. 

"Emas masih safe haven utama, namun terimbas aksi profit taking oleh kenaikan cukup besar tahun ini, yang di antaranya merupakan antisipasi dari geopolitik di Timur Tengah, kurang lebih istilah pasarnya adalah "sell on news"," kata Lukman kepada Kontan pada Jumat (6/3/2026).

Menurut Lukman, Dolar AS sudah lama mulai ditinggalkan secara pelan, tetapi biasanya beraksi positif ketika ada momen geopolitik/perang seperti saat ini. 

"Tidak ada safe haven lain yang dominan, hanya franc Swiss (CHF) yang masih mendapatkan sentimen investor yang baik sebagai safe haven," sambung Lukman.

Baca Juga: Rupiah Melemah Dekati Rp 17.000 per Dolar AS, Simak Proyeksinya Senin (9/3)

Lukman menuturkan alasan CHF sering dipandang sebagai safe haven karena stabilitas ekonomi dan politik Swiss yang sangat kuat, inflasi yang relatif rendah, serta reputasi sistem keuangannya yang sangat konservatif. 

Selain itu, surplus neraca berjalan yang konsisten sehingga mata uangnya cenderung kuat saat terjadi ketidakpastian global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×