Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten kembali memanfaatkan aksi pembelian kembali saham atau buyback untuk menopang harga saham di tengah volatilitas pasar. Terbaru, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menyiapkan dana Rp 1,38 triliun.
Sebelumnya, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) telah mengumumkan rencana buyback dengan nilai maksimal Rp 500 miliar. Kedua emiten tersebut akan menjalankan pembelian kembali saham hingga Desember 2026.
Di mana, KLBF menyiapkan dana internal maksimal Rp 500 miliar untuk membeli kembali saham. Periode buyback saham emiten farmasi ini akan berlangsung mulai 17 September–17 Desember 2026.
Baca Juga: Reli Harga Minyak Mulai Tertahan, Risiko Gangguan Pasokan Masih Mengintai
KLBF memperkirakan biaya perantara pedagang efek dan biaya lainnya maksimal sebesar 0,1% dari nilai buyback. KLBF juga memperkirakan penggunaan dana internal menekan pendapatan bunga sekitar Rp 8,4 miliar.
Di sisi lain, MBMA mengumumkan rencana buyback maksimal 1,465 miliar saham dengan alokasi dana hingga Rp 1,38 triliun. Anggaran tersebut sudah termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lainnya yang berkaitan dengan buyback.
Dengan jumlah saham maksimal 1,46 miliar lembar, buyback MBMA setara sekitar 1,36% dari sekitar 108 miliar saham perseroan. Aksi korporasi ini akan dilakukan secara bertahap atau sekaligus pada periode 17 September–16 Desember 2026.
Dengan jumlah saham maksimal 1,465 miliar lembar, buyback MBMA setara sekitar 1,36% dari sekitar 108 miliar saham perseroan. MBMA memperkirakan aksi tersebut tidak berdampak material terhadap proforma EPS.
Analis dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai aksi buyback menjadi katalis positif bagi KLBF maupun MBMA karena menciptakan tambahan permintaan dan memberikan sinyal harga saham menarik.
Menurutnya, dampak buyback KLBF cenderung menjadi price support karena anggarannya relatif moderat. Sementara pada MBMA, nilai buyback lebih besar sehingga sentimen dan likuiditas saham berpotensi lebih terasa.
Baca Juga: Suku Bunga The Fed Tekan Pergerakan Rupiah, Cek Proyeksi Kurs di Jumat (18/9)
Dari sisi fundamental, Elandry menilai KLBF memiliki karakter lebih defensif karena ditopang bisnis healthcare dan recurring demand. Semester I-2026, penjualan KLBF masih tumbuh sekitar 14% secara tahunan menjadi Rp19,47 triliun. “Meski demikian, laba bersih KLBF mengalami tekanan akibat kenaikan biaya. Namun ruang perbaikan kinerja KLBF ke depan berasal dari normalisasi margin, pertumbuhan ekspor dan pengelolaan tekanan nilai tukar,” katanya kepada Kontan, Kamis (17/9).
Elandry menyebut MBMA memiliki karakter yang lebih growth oriented dan sensitif terhadap harga nikel serta perkembangan proyek hilirisasi. Dus, keberlanjutan kenaikan saham tetap bergantung pada kinerja operasional dan harga komoditas.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai buyback KLBF berpotensi menjadi katalis positif bagi harga saham, terutama melalui sentimen dan technical support.
“Aksi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa manajemen melihat harga saham KLBF belum sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental. Buyback saham juga berpotensi menciptakan tambahan permintaan dan meredam tekanan jual,” katanya.
Dia bilang buyback lebih tepat dipandang sebagai katalis untuk pemulihan valuasi ketimbang katalis fundamental yang langsung mengubah prospek bisnis KLBF. Menurutnya, margin tetap menjadi faktor penting bagi keberlanjutan pemulihan saham.
Untuk MBMA, Nafan juga melihat buyback cenderung memberikan sentimen positif karena menciptakan tambahan permintaan dan bantalan terhadap tekanan jual. Namun, dampak langsung terhadap fundamental dan EPS dinilai relatif terbatas.
“Dari sisi fundamental, prospek MBMA menurut Nafan masih ditopang peningkatan produksi bijih nikel, perbaikan cash margin, serta perkembangan proyek hilirisasi, terutama high pressure acid leach,” tuturnya.
Baca Juga: Yen Jadi Sorotan Pasar Asia Jelang Keputusan BoJ, Ini Proyeksi Pergerakan USD/JPY
Lebih lanjut, Nafan menjelaskan secara teknikal saham MBMA memiliki pola perdagangan yang masih range-bound. Dia merekomendasikan beli dengan area masuk di kisaran Rp 486–Rp 515 dengan target harga di Rp 525 hingga Rp580.
Adapun untuk KLBF, Elandry merekomendasikan strategi buy on weakness. Menurutnya, karakter bisnis KLBF yang lebih defensif membuat saham tersebut memiliki profil berbeda dibandingkan MBMA yang lebih sensitif terhadap komoditas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













